NOW READING

Berbincang dengan Dipha Barus soal Musik dan Teknologi

 2777
+
 2777

Berbincang dengan Dipha Barus soal Musik dan Teknologi

by The Daily Oktagon

Semua indah pada waktunya. Begitu sebuah ungkapan berbunyi. Bagi Dipha Barus, kalimat itu mungkin ia revisi sedikit menjadi, “semua ada waktunya”. Kendati sebagai seorang Disc Jokey (DJ) namanya sudah melambung dalam beberapa tahun terakhir ini, namun baru pada Maret 2016 Dipha meluncurkan single pertamanya.

“Saya merasa ini sekarang waktu yang tepat untuk meluncurkan single,” ujarnya saat bertemu dengan The Daily Oktagon. Kami pun mengajak Anda untuk menyimak ulasan kala penulis berbincang dengan Dipha Barus soal musik dan teknologi. Yuk, langsung baca!

dipha3_foto_by_vinodii.comFoto oleh Vinodii


Anda juga tentu suka artikel menarik ini, Mengintip Perlengkapan Wajib Para DJ di Era Digital

Ya, bagi pecinta dance music Tanah Air, nama Dipha sudah tidak asing. Namun, selama ini ia ternyata belum pernah mengeluarkan sebuah original track. Dia sebelumnya disibukkan dengan berbagai aktivitasnya sebagai DJ, penulis lagu, produser musik, sehingga penyelesaian single “No One Can Stop Us” yang sebenarnya sudah dimulai pada pertengahan tahun lalu menjadi terbengkalai.

Sang pemilik gelar Paranoia Best DJ of the Year 2014 ini pun akhirnya bisa bernapas lega ketika single-nya rampung. Sesuai karakter musiknya saat ini, “No One Can Stop Us” bergenre dance music namun dengan sentuhan pop yang kental. Menariknya, Dipha menyebutkan smartphone-nya memegang peranan penting dalam proses pembuatan single ini. “Ini lagu ‘ponsel sekali’,” ungkap Dipha.

Lagu ini “ponsel sekali”. Bisa diceritakan maksudnya apa?

Saya memang ingin lagu ini suasananya Indonesia sekali, walau liriknya pakai bahasa Inggris. Jadinya setiap pergi ke berbagai tempat di Indonesia, saya suka merekam hal-hal unik di ponsel. Saya memang suka bepergian. Jadi hari Sabtu kerja, besoknya langsung backpacking ke suatu tempat. Di lagu ini, hook atau refrain-nya ada tari Saman Aceh.

Pertama kali saya rekam pakai ponsel ketika saya backpacking ke Sumatera. Tari Saman ini seru sekali sehingga sebulan kemudian saya kembali lagi untuk merekam sample yang lebih baik, yang kemudian saya olah di komputer. Kemudian masih ada elemen musik lain yang saya pakai di lagu dengan proses serupa, misalnya ada suara gong, gamelan Jegeg Bali, hingga caribbean steel drums.

Sejauh apa ponsel membantu ide kreatif Anda?

Untuk membuat berbagai ide musik sebelum ke laptop, saya buat di aplikasi pembuat musik GarageBand yang kebetulan sudah menjadi aplikasi dasar yang ada di ponsel saya. Saya baca review tentang aplikasi ini juga cukup baik. Saya bisa buat ide drum, bass, dan lainnya langsung disini. Dengan aplikasi ini saya bisa simpan ide kapan pun, bahkan saat saya lagi naik ojek. Hahaha!

dipha2_foto_by_vinodii.comFoto oleh Vinodii

Aplikasi musik selain itu?

Untuk aplikasi synthesizer berbagai isian di GarageBand, saya pakai Animoog. Kebetulan synthesizer saya di studio memakai merek Moog. Terus saya iseng-iseng untuk cari versi aplikasinya, ternyata ada yang aplikasi berbayarnya. Mereka sediakan banyak sound dan preset yang unik, dan bisa langsung saya transfer ke ke laptop.

Saya juga pasang Focal Teach. Ini untuk melatih kuping yang sangat berguna untuk profesi saya sebagai DJ. Saya sering melakukan mixing musik sendiri yang tentu harus hati-hati sekali. Dengan aplikasi ini saya bisa punya referensi kuping tentang misalnya sound clarity yang ideal, atau bunyi frekuensi suara akustik yang benar.

Bagaimana Anda melihat perkembangan teknologi digital saat ini?

Very organic. Misalnya yang simple, Saat orang membuka halaman Facebook saya, kalau dia ada kepentingan untuk booking, bisa langsung pencet nomor telepon yang tercantum di situ. Itu kan sangat organic. Belum lagi misalnya saya mau preview sebuah lagu, tapi saya sedang terburu-buru, ya tinggal saya e-mail. Terus nanti di-upload di Soundcloud. Sangat ringkas.

Sebagai DJ, Anda merasa terbebani harus update terhadap teknologi?

Tidak. Saya sendiri relatif tidak selalu meng-update perkembangan teknologi, tapi berusaha mengerti dan cocok dengan yang kita butuhkan. Saya sendiri berusaha untuk update. Misalnya saya memakai news digest LinkedIn Pulse, sehingga bisa baca berbagai informasi teknologi dari situ, misalnya berita di situs Mashable dan Wired.

Hanya saja, saya juga lihat ada orang-orang yang sebenarnya tidak butuh sebuah teknologi, tetapi tetap maksa untuk memakainya. Saya sendiri misalnya waktu awal-awal media sosial booming, sangat suka memakainya untuk posting hal pribadi. Tapi sekarang sudah benar-benar digunakan hanya untuk kepentingan kerja, misalnya untuk untuk promosi acara atau lagu. Jadi media sosial kalau kita pakai wisely, bisa sangat berguna.

dipha5_foto_by_vinodii.comFoto oleh Vinodii

Diluar musik, bagaimana Anda memanfaatkan teknologi digital?

Saya juga suka grafis, karena kebetulan latar belakang pendidikan di grafis. Berbagai hal bisa dilakukan hanya di ponsel, misalnya saja materi promosi video. Pembuatannya memang ada campur tangan di laptop, tapi penambahan elemen seperti huruf, atau mengedit sesuatu sudah bisa saya buat di iMovie.

Saya memang orangnya tidak bisa diam dan merasa aneh kalau sedang tidak bisa berkarya. Beberapa waktu lalu saya sempat masuk rumah sakit, harus istirahat, dan tidak boleh ada laptop. Tapi saya tetap tidak tahan sehingga minta laptop dikirim ke rumah sakit. Hahaha!

Apa saja aplikasi terakhir yang Anda pasang di smartphone?

Dari kita ngobrol ini, saya sendiri seperti baru sadar bahwa saya ternyata penyuka aplikasi. Saya pasang Glitché untuk edit foto. Saya juga suka olahraga jadi pasang aplikasi Freelatics. Saya suka olahraga, tetapi kemudian kebingungan cara terus melakukannya saat sedang keluar kota. Sehingga aplikasi ini berguna jika misalnya saya sedang tour.

Kalau penggunaan device lain?

Mulai awal tahun ini saya sedang mencoba memakai headphone baru. Saya coba pakai headphone yang sama saat producing dan saat DJ yaitu, Sennheiser HD 25. Karena saya sudah hapal frekuensi headphone ini, sehingga cukup membantu meringkaskan pekerjaan. Headphone juga sangat berguna karena kalau membuat lagu di laptop, sehingga penggunaannya membuat saya bisa menciptakan lagu di berbagai tempat dan keadaan. Bahkan, saat naik kereta sekalipun.

Saya juga memakai kamera Olympus E-P2. Saya sudah cukup lama suka fotografi, karena sangat menikmati proses cuci film kamera analog. Sebelumnya saya sudah pernah pakai brand lain, tapi kamera yang ini warnanya lebih dapet.

Saya juga punya alat pengukur dB (intensitas suara). Jadi misalnya saya ukur dB di sebuah club, sehingga tahu kira-kira main DJ di frekuensi seperti apa dan terus saya set di laptop. Saya tahu alat ini karena sering dipakai orang kalau sedang soundcheck. Ya, sebenarnya saya petakilan atau tidak bisa diam saja sih sebenarnya, mau sampai hitung-hitung dB.

Baca juga, Headphone Berkelas Terbaru untuk Manjakan Telinga Audiophile

0 comments