NOW READING

Belajar Sejarah Lewat Digital di Bale Panyawangan Diorama Nusantara

 130
+
 130

Belajar Sejarah Lewat Digital di Bale Panyawangan Diorama Nusantara

by The Daily Oktagon
  • Mempelajari sejarah Indonesia bisa dengan mendatangi museum.
  • Namun museum yang ada saat ini terkesan kuno dan hanya berbentuk diorama saja.
  • Bale Panyawangan Diorama Nusantara pun mengubah konsep tersebut menjadi lebih modern dan memanfaatkan digital sebagai media edukasi.

Dahulu hingga kini, sistem pembelajaran di Indonesia masih menggunakan buku sebagai media untuk setiap mata pelajaran. Sistem yang konvensional ini memunculkan rasa jenuh bagi para pelajar dan berpengaruh pada semangat belajarnya. Kehadiran teknologi digital akhirnya dipilih bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, mencetuskan ide membuat Bale Panyawangan Diorama Nusantara.

Letaknya yang cukup strategis, di dekat stasiun Purwakarta, membuat pengunjung yang datang tidak hanya dari lokal saja. Banyak juga wisatawan dari luar Purwakarta yang datang untuk melihat kecanggihan museum ini. Penjelasan dari terbentuknya bumi hingga ragam budaya Indonesia diberikan tidak hanya dalam bentuk diorama. Pengunjung juga dapat mendengarkan penjelasan lengkapnya melalui fitur digital yang ada pada Bale Panyawangan ini.

 

 

Cara Edukasi Digital ala Pak Bupati

Bale Panyawangan adalah sebuah museum yang awalnya dibuat hanya untuk menjelaskan sejarah Purwakarta dan diresmikan pada 2015. Bale sendiri artinya tempat, dan panyawangan artinya kembali ke masa lalu. Kemudian, dibuatkan Diorama Nusantara dengan isi sejarah di Indonesia secara umum. Diorama Nusantara sendiri diresmikan oleh Menteri Kemenko Maritim, Luhut Binsar Panjaitan pada Maret 2017.

“Bale ini awalnya merupakan ide Kang Dedi untuk dapat memberi edukasi, khususnya untuk pelajar. Saat ini, mereka lebih dapat memahami pelajaran khususnya sejarah menggunakan media audio dan visual. Jadi, dibuatlah Bale Panyawangan ini sebagai tempat wisata sekaligus belajar dengan cara unik dan atraktif,” jelas Endi, pengelola Bale Panyawangan Diorama Nusantara.

Meski masih terbilang baru, museum ini sudah sangat populer karena penggunaan teknologi untuk media belajar. Pengunjung dapat mengeksplorasi museum pada Selasa hingga Minggu dengan jam operasional yang berbeda-beda. Para pengunjung dari pelajar maupun wisatawan yang datang pun sekitar 600 hingga 1000 orang, terutama pada akhir pekan.

Awasi anak saat datang ke tempat ramai, misalkan konser di lapangan terbuka dengan tip yang bisa dibaca di sini.

Isi Museum, Unik dan Canggih

Tampak depan, museum ini terlihat seperti rumah sederhana didominasi warna putih dan terdapat nama Bale Panyawangan Diorama Nusantara. Masuk ke halaman, terdapat hiasan berupa keramik dan diberi nama-nama pulau di Indonesia. Setelah masuk, pengunjung dapat melihat isi museum secara keseluruhan melalui panduan virtual yang terletak di pintu masuk. Tampilannya berupa gambar yang diambil menggunakan kamera 360o dari tampak depan museum hingga setiap ruangan di dalamnya.

Kemudian, pengunjung disapa oleh representasi dari setiap daerah menggunakan layar LED dengan sapaan dari berbagai daerah Nusantara. Pada ruang pertama, pengunjung disuguhkan dengan sejarah terbentuknya bumi dari awal hingga sekarang dalam bentuk video mapping. Video ini berdurasi 10 menit, dengan diberi efek suara dan penjelasannya.

Semakin ke dalam, terdapat ruangan dari masa prasejarah hingga keindahan Indonesia saat ini. Setiap ruangan diberi satu pedoman virtual sebagai media penjelas diorama. Pengunjung akan mendapat informasi dari koleksi secara lengkap dalam bentuk audio dan visual.

Di dalam museum, terdapat sebuah ruangan bernama ‘Multimedia Archipelago.’ Selain penjelasan daerah dalam bentuk diorama, pengunjung juga bisa menggunakan sebuah sensor khusus. Hanya dari gerakan tangan pada layar, pengunjung dapat mengetahui lokasi pulau sesuai koordinatnya pada peta Indonesia.

 

Keterangan mengenai bendera provinsi, makanan dan rumah adat khas daerah juga disampaikan secara virtual. Pada ruang terakhir, pengunjung dapat menikmati perjalanan mengelilingi Indonesia dari kereta kencana. Cukup duduk manis, mengenakan kacamata VR, pengunjung dapat merasakan sensasi mengelilingi wilayah Indonesia dengan cara menyenangkan.

Pengembangan Teknologi Tiada Henti

Purwakata sendiri sudah memiliki 4 lokasi pembelajaran sejarah dan budaya Indonesia, yakni Bale Panyawangan Diorama Purwakarta, Diorama Nusantara, Bale Indung Rahayu, dan Galeri Wayang. Semua tempat ini sudah mengaplikasikan teknologi digital untuk proses edukasi bagi masyarakat secara umum. Seperti fitur video mapping, layar sentuh, buku digital dan buku bercerita, hingga jalan-jalan virtual dengan sepeda dan kereta kencana.

Semua hal tersebut hadir untuk mampu menarik masyarakat, khususnya generasi muda. Tujuannya agar sejarah dan budaya Indonesia yang disajikan dalam bentuk digital tetap dipelajari dan dilestarikan hingga masa yang akan datang.

Meski baru diresmikan, Pemda Purwakarta masih ingin mengembangkan teknologi digital pada Bale Panyawangan. Salah satunya dengan memberi fasilitas berfoto dan dapat dicetak serta dikirim melalui surel. Hal ini dimaksudkan sebagai bukti bahwa mereka pernah berkunjung ke museum canggih nan keren ini.

 

Namun, fasilitas ini dan teknologi lainnya masih dikembangkan secara mandiri menggunakan APBD Kabupaten Purwakarta. Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi belajar sejarah yang berbeda, silakan kunjungi museum ini. Posisinya cukup strategis, sangat dekat dengan Stasiun Purwakarta memudahkan akses pengunjung menuju Diorama Nusantara. Semoga ke depannya, Bale Panyawangan dapat terus berkembang dan semakin canggih dalam memberi edukasi sejarah dan budaya Indonesia.

Destinasi lain yang bisa didatangi untuk mengenal budaya Indonesia secara digital terdapat di artikel ini.

0 comments