NOW READING

Bagaimana Perkembangan Transportasi Online Menurut Pakar?

 6464
+
 6464

Bagaimana Perkembangan Transportasi Online Menurut Pakar?

by The Daily Oktagon

Saat ini, tidak ada kegiatan dan sektor yang bisa lepas dari teknologi informasi atau IT (information and technology). Hampir semua memanfaatkan teknologi ini, baik langsung maupun tidak langsung. Termasuk juga urusan transportasi.

Model-model lama atau tradisional, dimodernisasi dengan memanfaatkan IT. Tidak heran jika kemudian hadir ojek, taksi, dan bajaj yang dapat dipesan dari aplikasiatau on-demand, dengan beragam segmentasi. Bahkan misalnya ojek, mulai dari yang segmennya umum hingga khusus untuk perempuan.

Tentu Anda penasaran dengan beragam cara bertransportasi yang kini semakin menjamur. Lantas, bagaimana perkembangan transportasi online menurut pakar? Langsung simak saja ulasan berikut.

Layanan transportasi online memang menarik. Tinggal mengetukkan ujung jari, transportasi yang akan datang langsung ke tempat Anda ingin dijemput. Ini sangat berbeda dengan sebelumnya, di mana kita harus jalan ke pangkalan ojek, atau menyetop taksi di pinggir jalan.

“Ini kemudian menjadi booming karena memang merupakan sesuatu yang baru, dan pasarnya masih -istilahnya—blue ocean,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, ujar Heru Sutadi, yang juga pakar teknologi informasi kepada The Daily Oktagon.

Menurut Heru, yang sehari-harinya sibuk dengan beberapa penelitian di Big Data dan Cyber Security di Indonesia ICT Institute, kompetisi di ranah transportasi on-demand belum begitu ketat. Penyedia layanannya terbilang sedikit, dan belum mencakup seluruh pelosok nusantara, sementara demand banyak.

Heru pun melihat derasnya permintaan dari pasar karena layanan ini baru. Pengguna pun kemudian berbondong-bondong ingin mencoba.

Heru Sutadi

Heru Sutadi – foto dokumen pribadi

Pria kelahiran 1 April 1970 ini pun punya pengalaman memesan dan menggunakan ojek on-demand. Dia mengatakan, layanannya cukup menarik karena adanya promo. Tarif jarak jauh terasa lebih murah.

“Jadi, kalau mengalami kesulitan transportasi atau tidak menemukan ojek pangkalan yang dekat, saya langsung gunakan ponsel untuk memesan,” kata dosen program studi teknik informatika serta ilmu komunikasi ini.

Semakin hari, Heru mulai merasakan ada semacam penurunan kenyamanan, terutama dari segi pemesanan. Misalnya, server kerap bermasalah. Kadang juga karena pengojek suka membatalkan tiba-tiba, entah karena ban bocor atau alasan lain.

Sebelum lanjut membaca, yuk simak artikel berikut, Dukung Internet of Things, Bajaj pun Kini Bisa Dipesan Online

Saling Melengkapi

Heru berpendapat, semua moda transportasi yang ada sebenarnya saling melengkapi. Ini terjadi karena berkaitan juga dengan kebiasaan orang Indonesia yang menurutnya agak manja.

“Agak malas jalan kaki sedikit saja. Kalau naik angkot, maunya turun pas pintu pagar rumah atau ujung jalan rumah. Terlewat sedikit langsung marah-marah,” katanya.

Dia melanjutkan, ojek berkembang karena demand-nya ada dan tidak semua transportasi umum bisa mengantarkan sampai depan rumah. Sedangkan bus TransJakarta, rutenya terbatas. Begitu juga angkot, kalau mau nyaman, pilihannya dengan taksi yang agak mahal.

GO-BUSWAY

Aplikasi Go-Busway

Ojek akhirnya jadi pelengkap. Dengan tingkat kemacetan seperti Jakarta, tentu transportasi yang bisa menembus kemacetan, terutama di jam sibuk, menjadi daya tarik sendiri.

Teknologi Membuka Peluang Integrasi

Heru mengatakan, layanan ojek atau taksi online seharusnya bisa terintegrasi dengan moda transportasi lain. Namun, yang perlu diingat adalah semua transportasi harus memiliki akurasi dari segi jadwal berangkat dan tibanya.

“Jika masih seperti sekarang, agak berat memang,” kata Heru

Sedangkan di luar negeri, kata dia, semua transportasi sudah terintegrasi dan bisa diukur. Tidak hanya durasi perjalanan dari titik A ke titik B, tetapi juga pilihan berbagai kendaraan. Nah, sedangkan di Indonesia, untuk bisa mencapai itu, masih butuh waktu.

“Kalau pun nanti terintegrasi, transportasi on-demand ini sistemnya bisa mangkal atau mengetem di sekitar halte busway,” ucap Heru yang rutin menulis berbagai artikel mengenai perkembangan, kebijakan, dan kejahatan terkait dunia IT ini.

Isu yang Dihadapi Layanan Transportasi On-Demand

Salah satu isu utama layanan transportasi adalah privasi pengguna dan keamanannya. Heru berharap, penyedia layanan meningkatkan dua hal itu pada aplikasinya. Sehingga, tidak terjadi lagi pengguna diteror karena memberi review buruk, atau penumpang dirayu karena cantik, karena nomor teleponnya diketahui pengendara.

Ojek Syari

Ojek Syari 

Penyedia layanan juga perlu memberikan tarif yang transparan. Selain itu, khusus untuk ojek, sebagai transportasi yang sangat banyak digunakan, harus mengikuti ketentuan dan peraturan yang ada mengenai angkutan jalan.

Persaingan Antar Penyedia Layanan

Di satu sisi, persaingan membawa dampak positif bagi pengguna. Mereka punya lebih banyak pilihan layanan berkualitas dengan tarif yang sesuai. Penyedia juga bisa saling bersaing, tentu dengan cara yang sehat.

Salah satunya, seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa layanan ojek on-demand, lewat segmentasi layanan. Bagi mereka yang baru mau masuk, perlu dilihat juga apakah masih ada peluang dalam kompetisi yang mulai ramai ini.

Jeger Taksi

Jeger Taksi

“Sebab setahu saya, salah satu penyedia layanan ojek on-demand terbesar ini, sesungguhnya masih bleedingdengan subsidi yang diberikan kepada pengojek. Nilainya cukup besar, bahkan disebut-sebut mencapai miliaran rupiah tiap harinya,” ungkap Heru.

Menggunakan Teknologi untuk Mengatasi Isu Transportasi

Teknologi tentunya dapat digunakan untuk mengatasi masalah transportasi, khususnya angkutan umum, yang ada di Indonesia. Sebelumnya, menurut Heru, semua moda transportasinya perlu dibenahi terlebih dahulu.

“Setelah itu, semua dilengkapi Internet dan terhubung dengan aplikasi. Sebenarnya juga, masuknya Uber memberikan rangsangan agar taksi juga menyediakan aplikasi,” katanya.

GO-JEK

Go-Jek

Kemudian, dari sisi pembayaran, apakah itu kereta, TransJakarta, taksi, dan sebagainya, bisa menerapkan sistem cashless. Dia mencontohkan, misalnya dengan memanfaatkan teknologi Near Field Communication (NFC) pada smartphone. Dengan demikian, pilihan transportasi yang ada pun sudah semakin mendukung konsep Internet of Things (IoT). Konsep ini diharakan memudahkan masyarakat, karena kemudahan akses yang cukup dilakukan lewat perangkat mobile.

Yuk, baca juga artikel menarik berikut, Tips Maksimalkan Penggunaan Smartphone bagi Para Komuter

Sumber foto : Dokumen Pribadi Heru Sutadi, website Go-Jek, Ojek Syari, dan Taksi Jeger

0 comments