NOW READING

Bagaimana Masa Depan Teknologi di Tangan Millennial Indonesia?

 441
+
 441

Bagaimana Masa Depan Teknologi di Tangan Millennial Indonesia?

by The Daily Oktagon
  • Masa depan perkembangan teknologi tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi dan perangkatnya, melainkan juga penggunanya.
  • Millennial adalah generasi muda yang lahir di tengah perkembangan teknologi, artinya mereka akan menjadi sosok yang mengiring arah perkembangan teknologi.
  • Meski dianggap pecandu dari perkembangan teknologi, generasi millenial justru menjadi kalangan yang cukup kreatif memanfaatkan teknologi terkini.

Seorang remaja di Sleman, Yogyakarta, beberapa waktu lalu diberitakan ditangkap polisi karena memeras pacarnya, dengan ancaman menyebarkan video intim yang ia rekam dengan smartphone.

Di berita lain dalam kurun waktu berdekatan, tiga remaja siswi SMA Negeri 1 Bojonegara, Serang, berinovasi dengan ponsel, sehingga bisa menjadi alat bantu memberi makan ternak. Inovasi mereka meraih predikat pemenang favorit di ajang L’Oreal Girls in Science 2017.

Dua berita itu secara singkat memperlihatkan bahwa penggunaan teknologi di tangan remaja bagai dua sisi pisau, bisa berdampak negatif atau positif.

Saat ini dampak kehadiran teknologi memang sudah sangat terasa. Menurut Chief Service Management Officer XL Axiata, Yessie Yosetya, perkembangan teknologi saat ini benar-benar membawa pengaruh yang sangat masif, terutama bagi pola masyarakat hidup masyarakat penggunanya.

Salah satu yang kini mendapat sorotan adalah generasi remaja, atau yang kini kerap disebut millennial, kalangan yang paling merasakan dampak dari perkembangan teknologi saat ini. Hal dirasa wajar sebab generasi millennial ini merupakan generasi yang lahir dan tumbuh seiring perkembangan teknologi.

Menyambut HUT Indonesia ke-72 pada Agustus ini, tentu kita harus kembali melihat, bagaimana seharusnya kita mensikapi penggunaan teknologi oleh generasi millenial saat ini? Kalangan yang akan memegang andil pengembangan dan implementasi teknologi sebagai bagian dari kemajuan negara.

Edukasi Menjadi Kunci

Dhyotie Basuki, Public Relations Director LINE Indonesia menjelaskan, generasi millennial dapat dikatakan sebagai early adopters of technology, dari mulai kecil dan di bangku sekolah, teknologi sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Maka tak heran bahwa perkembangan teknologi dan generasi millennial saling terkait. Sudah sewajarnya mereka “akrab” dengan sisi baik maupun buruk perkembangan teknologi. Bahkan selama ini banyak dari masyarakat beranggapan bahwa teknologi hanya menghadirkan pengaruh negatif saja bagi generasi millennial.

Sementara Yessie melihat teknologi layaknya mesin atau alat, sehingga dapat berguna atau justru sebaliknya tergantung tujuan si pengguna.

Yessie justru melihat hal yang mendasar yang harus disikapi adalah edukasi yang diberikan untuk millennial. “Sifatnya (edukasi) urgent! Kita harus terlebih dahulu mengedukasi sisi baik dan buruk dari teknologi lalu cara memanfaatkannya secara positif,” beber Yessie.

Edukasi pemanfaatan teknologi tentu harus dilakukan lebih luas, dan tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua atau pelaku yang berkutat di bidang teknologi. “Khususnya di daerah pelosok saat internet baru menjangkau, edukasi juga harus hadir di sana. Jadi perkembangan teknologi bisa dimanfaatkan secara optimal,” jelas Yessie.

Hal senada diungkapkan Dhyotie, masyarakat harus menyikapi dengan bijak perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dibalik kecemasan masyarakat akan dampak negatif yang ditimbulkan, tersimpan potensi yang bisa dimanfaatkan. “Jika tidak ada edukasi maka mustahil para generasi millennial bisa memanfaatkan perkembangan teknologi untuk hal positif,” ungkap Dhyotie.

Simak saat presenter Putri Marino bicara mirrorless andalannya di sini.

Kreativitas Berbuah Positif

Tak heran jika beragam pihak saat ini semakin banyak yang menggaungkan gerakan atau edukasi untuk mendorong millennial memanfaatkan kreativitas mereka dalam menggunakan perkembangan teknologi saat ini.

Dhyotie melihat saat ini millennial sudah banyak yang memahami dampak positif dari perkembangan teknologi untuk berkarya. Kebanyakan generasi tersebut justru terinspirasi dari generasi sebelumnya yang sukses dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Munculnya profesi seperti menjadi vlogger atau Youtuber menurut Dhyotie adalah beberapa contoh cara generasi millennial memanfaatkan perkembangan teknologi untuk hal yang lebih positif, dengan memanfaatkan gadget seperti smartphone dan laptop. “Sudah banyak contoh millennial yang sukses dan menghasilkan sesuatu yang positif lho. Ada pengembang aplikasi dan software, atau game creators“.

LINE sendiri menurut Dhyotie cukup mendukung millennial untuk memanfaatkan teknologi. Msialnya lewat pembuatan konten hiburan seperti stickers dan webtoon, hingga membuka platform untuk generasi muda menciptakan aplikasi atau fitur teknologi baru yang bisa diaplikasikan dalam platform layanan.

Beberapa waktu yang lalu misalnya, perusahaan aplikasi pesan asal Jepang ini mengadakan ajang kompetisi menciptakan teknologi chatbot yang sudah dibenamkan artificial intelligence atau kecerdasan buatan. “Kreativitas mereka dalam berbagai hal ini sudah menjadi mata pencaharian atau bisnis. Artinya mereka paham cara memanfaatkan teknologi,” jelas Dhyotie.

Kondisi serupa dikemukakan Yessie, bahwa kita sudah sering menemukan produk-produk digital inovatif karya millennial Indonesia. Produknya bahkan tidak bermotif bisnis saja, banyak juga yang bertujuan sosial. “Ini bagus, artinya perkembangan teknologi saat ini tidak hanya dipergunakan untuk diri sendiri tetapi juga masyarakat luas,” jelas Yessie.

Tantangan teknologi juga dirasakan arsitek. Simak penuturan arsitek Cosmas Gozali di artikel ini.

Potensi Masa Depan

Yessie kemudian mengajak untuk membayangkan dampak besar yang ditimbulkan jika millennial di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak, untuk 10 hingga 20 tahun ke depan benar-benar memanfaatkan perkembangan teknologi ini secara optimal dan positif. Kontribusi mereka akan sangat besar bagi Indonesia.

Tentu saja tantang besar masih menghadang, yaitu kesiapan generasi ini bisa bersaing secara global. Dengan semakin majunya teknologi digital, maka semakin mudah juga bagi semua orang di dunia untuk menembus batas negara.

Fenomena ini menurut Yessie sudah bisa dilihat dari betapa besar platform semacam Google, Facebook, dan Twitter, Amazon yang relatif dijalankan oleh anak-anak muda, namun pasarnya menembus hampir seluruh dunia.

Dampak negatif tentu tidak bisa hilang secara total. Namun dengan edukasi dan dukungan yang konsisten dari semua pihak, penggunaan teknologi yang merugikan dapat diminimalisir. Perlahan tapi pasti, masa itu sudah dimulai dan kita sudah mulai bisa membayangkan hadirnya tokoh-tokoh teknologi muda yang hebat dari Indonesia.

Baca juga tentang Indonesia: Masa depan duet teknologi dan akses kesehatan di nusantara  

0 comments