NOW READING

Ayah Blogger VS Ayah Vlogger

 1173
+
 1173

Ayah Blogger VS Ayah Vlogger

by The Daily Oktagon

Bukan perkara mudah bagi orangtua untuk membagi cerita mereka kepada publik. Khususnya tentang kelucuan si kecil, beberapa ayah enggan untuk mengekspos anak mereka. Namun, Dave Hornby dan Muhammad Pradana Budiarto (Ditto) memiliki pendapat berbeda.

Berbagi Kebahagiaan Menggunakan Digital

Blog berasal dari kata ‘web-log’ di mana setiap orang bisa menceritakan kisah apapun dalam bentuk kata-kata. Penggunanya akan merasa seperti memiliki jurnal yang dapat dibaca oleh khalayak umum. Sementara vlog (video blogging) memungkinkan pengguna untuk merekam aktivitas keseharian, yang kemudian diunggah ke media sosial atau platform seperti Instagram dan Youtube.

Pada 2014, Dave Hornby memulai blog thedadventurer.com untuk berbagi pengalamannya mempersiapkan diri hingga menjadi ayah. Berbagai tip mengenai kehamilan dan ulasan mode juga teknologi dibahas pada blog pribadinya. Yang mendapat perhatian lebih adalah kisah saat berwisata bersama keluarga kecilnya. Berbagai keseruan diceritakannya melalui tulisan yang menarik dan menghibur dengan lelucon-lelucon yang diselipkan pada tulisan.

Ditto dan Ayudia Bing Slamet memiliki buah hati bernama Dia Sekala Bumi yang lahir Mei 2016. Tema video yang diunggahnya menunjukkan kebersamaan ‘Keluarga Belo’—panggilan akrab dari penggemar keluarga ini—saat mereka bepergian. Alasan Ditto membuat vlog pada Youtube cukup unik. Ia ingin merekam kelucuan Sekala saat menonton konser Coldplay di Australia, Desember 2016.

“Karena waktu itu mau nonton Coldplay. Kayaknya Sekala waktu itu perlu dokumentasi yang keren kalau nonton konser. Eh, jadi keterusan. Pas masukin, orang-orang jadi suka. Ya udah akhirnya jadi ngelanjutin,” jelas Ditto.

 

Foto: Dok. Pribadi

Keluh Kesah Blogger dan Vlogger

Kedua ayah ini ingin menunjukkan kebersamaan keluarga mereka kepada publik. Mereka memilih format yang sesuai dengan kebutuhan. Kesukaan Dave pada menulis menuntunnya membuat blog. Menggunakan bahasa sederhana dan jenaka, Dave berbagi keseruan dirinya berwisata ke mana pun dengan berbagai tip bermanfaat. Karena pembaca harus membayangkan isi tulisan, Dave memberikan beberapa foto sebagai penjelas cerita. Seperti saat anaknya Hayley main di tepi pantai saat berlibur ke Pembrokshire, Wales, pembaca pun merasa berada di lokasi pantai saat membaca tulisan.

Begitu juga dengan Ditto yang memilih vlog untuk merekam momen bersama keluarga. Menggunakan kamera Canon PowerShot G7X II, Ditto merekam dan menyunting sendiri video yang dia buat. Ditto terkadang mengalami kesulitan baik saat merekam maupun proses mengedit. Misalnya, ketika ia mencoba merekam Sekala yang sedang rewel. Namun Ditto mengaku bahwa menjadi vlogger menjadi cara menyenangkan untuk berinteraksi dengan publik.

 

Foto: Dok. Pribadi

Risiko yang Dihadapi

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan saat berkomitmen untuk berbagi kehidupan pribadi dengan publik. Kedua ayah ini mampu menunjukkan eksistensinya dengan berbagai hal yang mereka dapat. Dave sendiri pernah mendapatkan berbagai penghargaan seperti dari Parenting Blog No.4 terbaik di Inggris pada November 2016.

Meski baru memulai, vlog yang dibuat Ditto telah ditonton lebih dari 13 juta orang. Selain dikenal publik, mereka pun mendapatkan pendapatan dari berbagai iklan yang mendukung blog maupun akun Youtube tersebut.

Namun, tak bisa dipungkiri, ada dampak lain yang dirasakan ayah blogger dan vlogger ini. “Jadinya pada minta video terus. Ga mau sabar netizen-nya,” ungkap Ditto setelah dirinya memutuskan menjadi vlogger.

Hal-hal seperti ini juga dialami Dave pada setiap tulisannya. Selain menuntut adanya cerita, orang-orang yang membaca akan terus mengomentari hasil tulisan ke arah negatif. Seperti artikel yang terlalu panjang, foto yang kurang terlihat nyata. Tentu hal tersebut sangat menggangu keduanya. Mereka hanya ingin membagikan kebahagiaan berkeluarga, tanpa harus melulu mengungkapkan privasi hidup pribadi.

 

Foto: Shutterstock.com

Harapan untuk Ayah Milenial

Para ayah sudah mulai melek terhadap teknologi yang berkembang, termasuk mempelajari cara membuat sebuah konten untuk blog maupun vlog. Menjadi ayah milenial pun dianggap sebuah predikat baru, atau cara lain agar seorang ayah juga semakin terlibat dalam pertumbuhan anak.

“Sekarang udah zamannya emansipasi, untuk ayah milenial kayaknya harus tahu wawasan cara berkeluarga atau mengurus anak dari bayi,” ujar Ditto.

Dave juga berharap agar ayah lain mampu membuat blog sepertinya. Dengan membuat sebuah konten tulisan yang menarik, dia mampu menjadi bisnis sampingan yang menghasilkan pemasukan. Namun, keluarga tetap menjadi prioritas utama karena dirinya mampu mengurus segala sesuatu hanya dari rumah saja.

0 comments