NOW READING

Asyiknya Melancong Ala Komunitas Backpacker

 1364
+
 1364

Asyiknya Melancong Ala Komunitas Backpacker

by The Daily Oktagon

Sumber foto utama: BPI

  • Dari berbagai komunitas backpacker yang aktif di Indonesia, salah satu yang eksistensinya cukup diperhitungkan adalah Komunitas Backpacker Indonesia (BPI).
  • Selain mengadakan open trip ke sejumlah lokasi eksotis di Indonesia, komunitas ini juga rutin mengadakan gathering nasional setiap tahunnya.
  • Memaksimalkan teknologi untuk mengelola situs komunitas agar para anggotanya nyaman “berkumpul” secara online.

Tren bepergian dengan gaya backpacking sudah popular lama. Kendati sudah bukan barang baru, bukan berarti orang sudah meninggalkan aktivitas bepergian dengan gaya “sekadarnya” ini.

Setidaknya menurut survey yang diadakan Booking.com, 56% traveler dari berbagai negara yang menjadi peserta survey, mengaku masih ingin bepergian dengan backpacking pada tahun depan.

Maka tak heran jika berbagai komunitas yang terbentuk untuk mewadahi pecinta backpacking tetap digemari anggotanya. Di Indonesia sendiri, ada sejumlah komunitas backpacker yang cukup eksis. Sayang, komunitas-komunitas tersebut timbul tenggelam, alias hanya ‘aktif’ saat bepergian saja.

Dari semua komunitas backpacker yang aktif di penjuru Indonesia, salah satu yang eksistensinya cukup diperhitungkan adalah Komunitas Backpacker Indonesia (BPI).

Seperti apa kiprah komunitas ini memboyong visi dan misinya untuk mengajak para backpackers melancong sepanjang nusantara? Ikuti ulasannya bersama The Daily Oktagon.

Memanfaatkan Demam Backpacking

Komunitas Backpacker Indonesia mengukuhkan dirinya sebagai pionir komunitas backpacking di Indonesia. Rahmat Hidayat Yulianto, salah satu pengelola komunitas ini mengatakan, bahwa komunitasnya didirikan pada September 2009 silam.

Awal berdirinya komunitas tersebut bermula saat tren backpacking tengah merebak di kalangan anak muda. “Saat itu anak muda lagi demam backpacking. Banyak sekali biro wisata yang menawarkan perjalanan dengan harga yang cukup murah, namun kita belum ada massa-nya,” ujar Rahmat.

Foto_-_3__Source_Forum_Bacpacker_Indonesia_

(Dok. BPI)

Momen tersebut akhirnya dimanfaatkan dengan membentuk sebuah komunitas kecil yang awalnya terdiri dari 20 hingga 50 orang. “Trip awal kita belum terlalu jauh, masih antar pulau Jawa, paling jauh ke Bali atau Nusa Tenggara,” lanjutnya.

Barulah dari situ, Rahmat dan teman-temannya memutuskan serius mengelola komunitas Backpacker Indonesia. Hingga kini sudah ada sekitar hampir 80 ribu anggota yang tergabung bersama komunitas ini. “Semuanya berasal dari berbagai daerah,” ungkap pria yang akrab disapa Kepyar ini.

 Saat traveling, bawalah gadget yang tepat. Rekomendasinya ada di artikel ini.

“Melompati” Berbagai Pulau

Semakin bertambahnya jumlah anggota di komunitas Backpacker Indonesia, skala acara bepergian pun semakin inovatif, walau menurut Rahmat tujuannya tidak tentu dan frekuensinya sangat padat. “Sebulan bisa ada beberapa kali,” ungkapnya.

Salah satu kegiatan yang paling sering atau sedang tren saat ini, menurut Rahmat dikenal dengan istilah island hopping. Segerombolan anggota komunitas melakukan perjalanan antar pulau dalam kurun waktu tertentu.

Rahmat mencontohkan island hopping yang sudah pernah dilakukan dengan rute Belitung (Sumatra), Makassar (Sulawesi), sampai Banda Neira (Maluku). Objek tujuan perjalanan bervariasi, dari laut, gunung, hingga hutan,” timpalnya.

Bertambahnya anggota komunitas juga ditandai dengan inisiatif yang semakin mencair di “cabang-cabang” komunitas ini. Menurut Rahmat, komunitasnya kini tersebar di beberapa wilayah. “Jadi misalnya yang di Bandung mau pergi ke Labuan Bajo. Anak-anak BPI Bandung bisa bikin thread open trip baru di forum yang mengajak yang lain, bahkan untuk anggota di luar Bandung,” katanya.

Jika lupa bawa kamera saat traveling, maksimalkan saja kamera di smartphone, intip triknya di sini 

Disamping sowan ke berbagai destinasi, acara kumpul-kumpul juga diadakan lewat ajang yang lebih “serius” di Gathering Nasional Backpacker Indonesia. Gathering pertama kali diadakan pada 2013 di lokasi yang tak kalah unik, di danau Ranu Kumbolo yang terletak di gunung Semeru, Jawa Timur. “Sengaja diadakan di situ, sekalian backpacking,” jelas Rahmat.

Foto_-_4__Source_Forum_Bacpacker_Indonesia_

Dok. BPI

Gathering terakhir berlangsung Oktober lalu di Goa Cemara Bantul, Yogyakarta. Beberapa komunitas BPI dari sejumlah kota mulai dari Jabodetabek, Palembang, Bandung, Surabaya, Medan, Palembang, Kalimantan, hingga Makassar ikut gelaran akbar ini.

Gathering nasional menurut Rahmat bisa memberikan efek konsolidasi sesama anggota. “Biar tidak hanya sosialiasi di forum, dan kenalnya nggak yang itu-itu saja,” jelasnya.

Pemanfaatan Teknologi dan Gadget

Disamping terus mengadakan acara perjalanan dan pertemuan anggota, komunitas ini pun tidak segan melirik potensi ranah teknologi sebagai salah satu cara untuk melanggengkan komunitas.

Setelah mendirikan dan menjalankan situs Backpacker Indonesia, situs ini kemudian dilengkapi berbagai  fitur yang bisa dimanfaatkan anggota. Misalnya saja fitur booking hotel dan tiket. “Fasilitas ini memudahkan anggota untuk mengatur open trip,” tutur Rahmat. Bagi calon backpacker yang berminat ingin gabung, bisa langsung mendaftarkan dirinya.

Dan seperti situs berbagai komunitas lainnya, media teknologi ini dimaksimalkan sebagai forum untuk berbagi kiat khusus backpacking, informasi rekomendasi tempat-tempat berlibur di Indonesia, hingga wadah berbagi foto dan informasi seputar itinerary backpacking.

Jika tujuan backpacking adalah pantai, sebaiknya bawa gadget-gadget berikut ini

Untuk urusan berbagi foto itu pula, Rahmat tentu tak mengelak jika komunitasnya tak bisa luput dari penggunaan gadget. Apalagi, di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang kian masif seperti sekarang ini, penggunaan gadget seperti smartphone dan kamera jadi prioritas utama untuk ketika backpacking.

(Dok. BPI)

(Dok. BPI)

“Namanya backpacking, sia-sia kalau tidak mengabadikan momen. Apalagi sekarang sudah banyak kamera dan gadget berukuran ringkas yang mudah dibawa kemana-mana. “Tinggal foto, lalu diunggah ke forum dan media sosial,” ujar pria biasa menggunakan action camera GoPro Hero 4 Black saat backpacking ini.

Dengan berbagai keuntungan yang didapat dengan mengikuti komunitas semacam ini, rasanya tren backpacing tidak akan pernah menghilang, dan justru terus mendapat tempat khusus di hati para traveler.

0 comments