NOW READING

Arsitektur Banyak Irisan Dani Hermawan

 1132
+
 1132

Arsitektur Banyak Irisan Dani Hermawan

by The Daily Oktagon

Computational design. Istilah arsitektur ini mungkin asing di telinga, atau bakal terlalu rumit untuk mendefinisikannya. Wajar saja jika kita jarang mendengar istilah tersebut. Dua tahun pulang dari sekolah S2 Arsitektur di Jerman, Dani Hermawan menyadari bahwa bidang yang ia tekuni, computational design dan digital fabrication tidak populer di Tanah Air. “Hampir tidak biro arsitektur yang menjalankan bidang ini secara khusus,” katanya.

Maka pada 2010 Dani berinisiatif mendirikan Formologix Lab, sebuah “laboratorium” desain eksperimental dan riset computational design. Berbagai proyek pun dilakoni yang biasanya bekerjasama dengan berbagai pihak seperti seniman, arsitek, hingga fabricator. Sebut saja pembangunan blobby dome di Belitung Timur yang mempunyai tampilan yang sangat unik.

Formologix adalah kawah desain dan riset yang mempertemukan banyak ilmu yang saling mengisi. Dani menyebutnya dengan hasil dari irisan antara komputasi desain, material teknik, dan sains. “Terdengar sangat ambisius, namun begitulah kami, pemimpi semua, hehehe,” ujar Senior Architectural Designer untuk Indonesia Pavilion di ajang World Expo 2015 ini.

The Daily Oktagon menyajikan wawancara mengenai arsitektur banyak irisan Dani Hermawan. Tentu Anda penasaran apa maksudnya, kan? Yuk, langsung simak!

Dani Hermawan

Apa saja kesibukan Anda belakangan ini?

Mengajar di Universitas Pelita Harapan dan melakukan pekerjaan riset di laboratorium mungil saya, Formologix Lab. Di dua domain tersebut, akademik maupun praktik, saya memfokuskan diri pada architectural computational design dan digital fabrication.

Bagaimana ceritanya sehingga Anda membuat Formologix?

Setelah dua tahun saya kembali dari program Master of Architecture di Dessau Institute of Architecture, Hochschule Anhalt (FH), Jerman pada 2008, saya baru sadar bahwa bidang yang saya tekuni yaitu computational design dan digital fabrication tidak popular. Hampir tidak ada kantor atau biro arsitektur yang menjalankan bidang ini secara khusus.

Termin “digital” dalam kancah perarsitekturan pun masih lebih banyak berada dalam cara merepresentasikan desain, belum sepenuhnya memanfaatkan pontensi media digital untuk simulasi, evaluasi, analisa, bahkan memandu mesin fabrikasi untuk dapat memroduksi elemen desain arsitektural mempergunakan mesin-mesin fabrikasi. Ya, belum momennya saat itu.

Saya kemudian berpikir perlu merawat field of interest saya ini. Saya memilki raw model yang dijadikan panutan yaitu tutor saya semasa sekolah di Jerman, Mattias del Campo, principal Span Architecture di Vienna. Ia seorang arsitek asal Chile yang terpilih sebagai arsitek Austrian Pavilion untuk Shanghai Expo 2010. Mattias mengembangkan dunia praktik di bidang computational design dengan membuat sinergi antara mengajar dan praktik.

Saya kemudian mencari sekolah arsitektur yang memungkinkan untuk mengembangkan riset computational design, mengajar dan melakukan sinergi dengan praktek riset-desain saya. Pada 2010 Bergabunglah saya di Arsitektur Universitas Pelita Harapan, dan di tahun yang sama saya membangun Formologix.

Jangan lewatkan artikel menarik berikut, Glenn Prasetya dan Pandangannya tentang Dunia Digital

Secara “bahasa sederhana” apa itu Formologix?

Secara sederhana tiga keywords yang mewakili lab kami ini ini, form, logic dan experimental. Sebuah Laboratorium experimental desain dan riset yang mengkhususkan diri di digital tectonic dan fabrikasi sebagai hasil dari irisan antara komputasi desain, material teknik, dan sains.

Bisa ceritakan apa saja hal penting yang dikerjakan laboratorium ini?

Dua tahun terakhir ini kami banyak mengembangkan teknik dalam computational design yaitu parametric design untuk beberapa proyek kolaborasi, seperti modular system untuk blobby dome di Belitung Timur. Untuk proyek ini kami berkolaborasi seperti dengan Samko Timber untuk pengembangan dan penggunaan teknik modulasi dek kayu laminasi dengan sistem triangulation, sehingga dapat mengontrol mutu dan efisiensi, meminimalisir sampah, dan efisien dalam mempergunakan resources.

BlobbyDome_ParametricModeling

Modeling bangunan blobby dome.

 

Ada juga Viro build, untuk pengembangan material dan teknik anyam fiber sintetik untuk gubahan arsitektur kubah yang dirancang dan difabrikasi di Tangerang, kemudian dipasang di Belitung Timur.

Proyek lainnya yang sedang kami kembangkan adalah riset core generative design. Kami mencoba mengkreasikan bentuk untuk produk-produk dalam skala lebih kecil seperti industrial design, interior, hingga terkadang aksesori untuk fashion.

Proyek riset lebih mengutamakan mencari peluang, yang umumnya berakhir dengan output berupa prototipe atau mock-up. Jika ada investor yang tertarik untuk membiayai, maka kami melakukan kolaborasi lebih lanjut untuk merealisasikan prototype itu menjadi obyek yang lebih memiliki fungsi tertentu.

Bagaimana perkembangan teknologi digital membantu profesi Anda saat ini?

Untuk profesi saya sebagai arsitek yang menspesialisasikan diri dalam computational design dan digital fabrication, tentu perkembangan teknologi digital membantu produktivitas riset saya di Formologix.

Bagaimana dengan pengaruh teknologi digital di dunia arsitektur dan desain saat ini?

Dampaknya sangat besar ya. Misalnya saja, praktisnya saat ini kami tidak memiliki kantor fisik. Ruang kerja berupa platform all Internet-based. Teknologi digital saat ini sudah memungkinkan untuk kami berkolaborasi tidak pada tempat yang sama. Kini ada Skype, WhatsApp, dan Google Drive yang bisa bagi bersama melalui Internet di antara anggota tim Formologix.

Ditambah lagi dengan kemajuan teknologi mesin-mesin fabrikasi, teknologi seperti 3D printing, laser cut, CNC milling machine yang memungkinkan membangun prototipe, bahkan mock up, secara geometrical digital information atau data. Mesin-mesin tersebut hanya perlu kami feed dari tempat kami bekerja, tanpa harus ada di tempat mesin fabrikasi berada.

Sementara ditinjau dari hasil kerja kami, teknologi mendorong kita untuk lebih hormat terhadap penggunaan resources yang lebih efisien dan efektif. Dengan teknologi memungkinkan tweaking terhadap representasi desain dalam bentuk data atau informasi digital. Sehingga rancangan bisa lebih komprehensif untuk dapat mendeteksi problem, kesalahan dan waste yang dihasilkan lebih dini.

BloobyDome_Birdeyeview

Potret fisik bangunan blobby dome.

 

Apa saja kemampuan smartphone yang Anda gunakan untuk mendukung profesi?

Yang paling utama untuk produktivitas personal seperti me-manage kontak, email, messaging, agenda, storage dalam satu device. Selebihnya saya masih lebih banyak mempergunakan PC tablet saya untuk melakukan pekerjaan di bidang computational design.

Ada aplikasi khusus yang dipasang untuk mendukung profesi Anda?

Untuk 3D model viewer saya memasang MeshLab, sementara untuk compiler atau programming highlighter, ada aplikasi seperti JavaScript on The Go dan Source Viewer.

Apa rencana ke depan?

Membuka kemungkinan seluasnya untuk dapat berkolaborasi dengan bidang lain seperti robotics, biologi, dan material engineering. Saya yakin melalui kolaborasi kita dapat menghasilkan produk-produk menarik yang bisa diterapkan pada desain arsitektural, desain interior atau produk industrial di Indonesia.

Baca juga, Fauzan Ijazah dan Seri Foto Pengungsi Rohingya “Stateless Women”

0 comments