NOW READING

Arah Indonesia untuk Berdikari di Era Digital

 1273
+
 1273

Arah Indonesia untuk Berdikari di Era Digital

by The Daily Oktagon

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat pengguna internet di Tanah Air telah menembus 88 juta pada 2015 lalu.

Angka itu masih jauh dari populasi Indonesia yang tercatat lebih dari tiga kalinya, karena memang penetrasi internet di Tanah Air belum luas dan merata. Banyak masyarakat yang masih tinggal di area yang tak terjamah infrastruktur pendukung akses internet.

Kesenjangan digital ini pula yang kerap jadi bahan perbincangan para petinggi negeri. Pinginnya, Indonesia bisa jadi negara ekonomi digital; tak lagi menjadi konsumen, serta mampu memproduksi dan mendorong sektor industri menjadi lebih produktif lewat penggunaan internet.

Presiden RI, Joko Widodo pun sempat mengatakan kalau ia memiliki mimpi besar menjadikan Indonesia jadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Baca juga kupasan menarik tentang tren teknologi modular yang diperkirakan sebagai potret generasi smartphone masa depan

Namun untuk mencapainya ada fase awal yang mesti dicapai, yaitu para operator telekomunikasi bisa membangun infrastruktur jaringan dan menyediakan akses internet yang merata dan mumpuni.

Selain data di atas, Indonesia boleh berbangga diri karena juga tercatat memiliki kemampuan mengadopsi teknologi internet dengan baik. Hal lain yang juga menggembirakan adalah pertumbuhan pesat UKM akibat mengoptimalkan teknologi digital.

ukm indonesia

Seorang pengunjung memilih berbagai suvenir kerajinan tangan yang dipajang pada pameran produk usaha kecil menengah (UKM). (Sumber foto: ANTARA/R. Rekotomo)

“Sebagai pengguna, kita paling cepat mengadopsi karena pengguna internet kita sebagian besar datang dari generasi milenial dan digital immigrant. Kaum ini banyak bekerja di sektor UKM dan lahir sebelum generasi Y,” ujar Doni Ismanto, Pengamat Telematika pada The Daily Oktagon.

Sebagai informasi saja, digital immigrant adalah sebutan untuk orang yang lahir sebelum era internet, namun akhirnya menjadi melek internet dan menjadi kelompok pengguna aktif.

Kembali ke soal adopsi teknologi internet, hal ini bagai sisi mata uang karena Indonesia, selain punya potensi memanfaatkannya untuk mendongkrak daya ekonomi juga berisiko jadi sasaran empuk perusahaan asing yang menginvasi pasar dalam negeri.

Contoh mudahnya, coba sebutkan beberapa media sosial yang sering digunakan banyak orang. Anda pasti akan menyebut nama Facebook atau Twitter, misalnya. Keduanya memiliki satu kesamaan: dimiliki oleh pengusaha asing.

Bahkan Indonesia merupakan salah satu basis pengguna Facebook terbesar di dunia. Jumlah pemakainya? Setidaknya ada 72 juta pengguna, menurut data yang dirilis Facebook pada 2015.

“Lihat saja beberapa vendor handset yang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama untuk global launch. Ini artinya market Indonesia memang seksi. Jumlah kaum menengahnya banyak, dan GDP tumbuh. Sayangnya kita cenderung jadi konsumtif,” kata Doni mengomentari.

Menurut Doni juga, untuk mendorong industri Indonesia lewat pemanfaatan teknologi digital ini cukup sulit. Ia menilai kalau Indonesia belum memiliki roadmap yang jelas, terutama kalau berkaitan dengan layanan konten digital sampai ecommerce.

internet indonesia

Program Desa Informasi yang digalakkan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) di Desa Bakustulama, Tasifeto Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Sumber foto: Kominfo.go.id)

Diterangkan Doni, roadmap ini salah satu kunci penting untuk berdikari di era digital. Dengan kata lain, pemerintah perlu memberikan dukungan penuh pada pelaku bisnis lokal. Hal itu jadi makin penting lagi dengan perkembangan tren yang tak lagi hanya berputar soal perangkat mobile; tapi juga era Internet of Things (IoT), streaming, dan smart device.

“Bicara soal industri itu cukup susah. Kita belum memiliki roadmap yang jelas selain retorika. Bagaimana kita akan menyambut IoT, standarisasi seperti apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana dengan perlindungan data pribadi, dst. Kita perlu memiliki semua itu,” imbuhnya.

Simak juga potret tren layanan streaming di Indonesia

Menurut Doni, manusia memang tak bisa menyetop perkembangan teknologi, tapi mestinya mampu mempersiapkan perangkat untuk menghadapinya. “Apakah baiknya kita perlu memilih teknologi yang tepat untuk berdikari secara digital? Karena terbuka saja tidak cukup, karena era digital memang sudah terbuka,” tandas Doni.

Di saat bersamaan masyarakat dan pelaku kreatif dalam negeri terus bergerak dan berinovasi. Mereka terus mengupayakan Indonesia bangkit dan dikenal dunia lewat beragam usaha rintisan karya anak bangsa yang makin mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia.

Sebut saja Go-Jek, eFishery, YesBoss sampai Ruangguru yang merupakan bagian dari inisiatif bisnis yang memanfaatkan teknologi dan media digital di Tanah Air untuk berdikari di negeri sendiri.

0 comments