NOW READING

Apresiasi Film dari Moviekom 2017

 1123
+
 1123

Apresiasi Film dari Moviekom 2017

by The Daily Oktagon
  • Tahun ini, CC mengadakan MOVIEKOM, tempat mengapresiasi hasil-hasil karya para calon anggota dengan tema “Apresiasi dalam Toleransi”.
  • Film-film yang dihadirkan memiliki jalan cerita yang luar biasa. Mulai dari cerita ringan saat masa kecil hingga fiksi yang menceritakan tentang negeri tanpa malam.
  • Pemutaran film dilakukan selama dua hari berturut-turut, yaitu 29-30 Maret 2017. Sementara pada 31 Maret 2017 diadakan Awarding Night bagi karya-karya yang ditampilkan.

Duapuluh satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Namun siapa sangka UKM Cinematography Club FIKOM UNPAD yang lebih terkenal dengan nama CC, sudah berdiri selama itu. Tahun ini, CC mengadakan MOVIEKOM, wadah apresiasi hasil-hasil karya para calon-calon anggotanya.

Bertemakan “Apresiasi dalam Toleransi”, CC memutarkan 10 film dari para anggotanya dan 6 film dari komunitas lain. Di hari terakhir, acara yang digelar 29-31 Maret 2017 ini mengadakan “Awarding Night” bagi karya-karya calon anggota CC yang ditampilkan. The Daily Oktagon sendiri menjadi pendukung acara ini.

Meski ini adalah pertama kalinya bagi para calon anggota CC membuat film pendek, film-film yang dihadirkan memiliki jalan cerita yang luar biasa. Mulai dari cerita ringan saat masa kecil, hingga fiksi yang menceritakan “Negeri Tanpa Malam”.

Tak heran jika di setiap pemutaran di Bale Santika Unpad Jatinangor itu, kursi pertunjukan selalu dipenuhi para pengunjung. Padahal untuk menonton setiap film, para pengunjung dikenai biaya hingga 25 ribu rupiah untuk semua sesi.

Ragam Film Pendek

Jegal-jegalan, Soulmate, Naik ke Bawah, dan Dilema menjadi empat film yang diputarkan saat sesi pertama. Kisah-kisahnya ringan, nyeleneh, namun penuh makna.

Sebut saja Naik ke Bawah, yang membuat logika kita menjadi terbalik. Ide ceritanya adalah bagaimana pandangan “gila”nya dunia dalam pandangan orang gila. Menarik bukan?

Sesi kedua, giliran Tinggal Lep, Leungit Ka Tujuh, dan Kembang Sepasang yang menjadi primadona. Ketiganya menceritakan bagaimana mitos-mitos yang beredar di masyarakat mendoktrin sehingga menjadi paradigma yang salah.

Jalan cerita yang unik dan alur yang sulit ditebak menjadi daya pikat masing-masing film. Kembang Sepasang, adalah salah satu yang memenangi “award” di Moviekom 2017 ini.

Anak ITB juga tak mau kalah soal film Intip eventnya di sini

Pemutaran film calon anggota CC ditutup oleh Diantara, Swastamita, dan Sebat. Swastamita adalah fiksi yang menceritakan mahasiswa bernama Sirus yang tinggal di dunia tanpa malam dan juga ekpresi bahagia.

Sampai akhirnya ada acara pelelangan,yang dilelang adalah senja. Namun Sirus gagal mendapatkan senja sehingga ia melelangkan bola matanya. Film-film yang dibuat oleh para calon anggota CC ini menjadi sebuah bukti bahwa mereka benar-benar memiliki minat terhadap pembuatan film dan bertekad untuk menyampaikan pesan-pesan yang bermanfaat untuk para penikmat karya mereka.

Selain pemutaran Film, ada pula diskusi film non CC Fikom yang diputarkan. Salah satunya adalah Turah, film drama Indonesia berbahasa Tegal yang diproduksi Fourcolours Films pada tahun 2016 ini memiliki durasi 83 menit.

Turah menceritakan kehidupan masyarakat Kampung Tirang di Kota Tegal yang mengalami isolasi selama bertahun-tahun yang kemudian memunculkan berbagai problema. Tahun 2016, film ini memenangi 3 kategori sekaligus; Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival. Sedangkan kategori Asian Feature Film Special Mention diraih dalam Singapore International Film Festival.

Simak di sini untuk ulasan pameran film mahasiswa Perbanas 

Apresiasi Dalam Toleransi

Setelah resmi menjadi anggota CC Fikom Unpad, para anggota baru langsung menerima penghargaan atas kerja keras mereka saat menjadi calon anggota. Uniknya, nama penghargaan yang mereka terima diambil dari tokoh-tokoh perfilman Indonesia yang melegenda.

Misalnya saja penghargaan Teguh Karya sebagai penghargaan Divisi Penyutradaraan yang diraih film Kembang Sepasang. Sementara penghargaan Christine Hakim untuk Pemeran Utama yang diberikan untuk film Dilema.

Lukman Hoedi, selaku ketua CC saat ini berharap perkumpulan seperti ini dapat terus berkarya, menciptakan karya-karya yang lebih baik lagi, tetap eksis, dan tetap memiliki ikatan batin yang erat.

“Semoga tetap mendistribusikan film-film CC ke festival film pendek, serta tetap memberi ruang untuk pihak luar agar berkarya bersama dan mengapresiasi karya sineas-sineas muda Indonesia”, begitulah harapan yang diungkapkan Loekman.

Dengan jargon “CC! CC! CC! Action!” Moviekom 2017 selesai diselenggarakan. Harapan para anggota CC adalah semoga karya yang kelak mereka lahirkan bisa dinikmati seluruh masyarakat dan memberikan dampak positif pada penikmatnya. Maju terus sineas muda Indonesia, sampai bertemu di acara MOVIEKOM tahun depan!

0 comments