NOW READING

Apa Kabar Penerapan Smart City di Indonesia?

 2140
+
 2140

Apa Kabar Penerapan Smart City di Indonesia?

by The Daily Oktagon

sumber foto utama: smartcity.jakarta.go.id

  • Indonesia relatif terlambat dalam mengadopsi konsep “smart city“. Namun perlahan beberapa kota besar di Tanah Air mengadaptasinya
  • Masing-masing kota yang menerapkan teknologi smart city mempunyai penekanan manfaat yang berbeda-beda
  • Pencapaian smart city yang ideal adalah adopsi utuh dengan ‘paket lengkap’ yang didukung Internet of Things.

Kota pintar (smart city) kini bukan lagi sekadar ‘konsep’. Setelah terbukti bisa diterapkan pada kota-kota yang berlokasi di negara-negara maju, Smart city didapuk menjadi pilot program pemerintah Indonesia untuk memajukan dan memudahkan keberlangsungan hidup masyarakat, khususnya dari sisi teknologi.

Smart city mengemban misi khusus ‘menempa’ kota-kota menjadi convenient city serta memaksimalkan daya saing kota itu sendiri, yang kelak dapat membuat kota-kota besar untuk maju dalam hal lingkungan, sosial, serta ekonomi.

Di era pesatnya perkembangan teknologi dan internet seperti zaman sekarang, beberapa kota besar di penjuru dunia malah sudah bertransformasi menuju smart city. Berdasarkan data yang dikutip dari Cities in Motion Index (CIMI), terdapat 20 smart city terbaik di dunia yang kemajuannya cukup masif.

Di antaranya ada London, Tokyo, New York, Zurich, Pris, Geneva, Basel, Osaka, Seoul , dan Oslo. Masing-masing punya keunikan dan kelebihan tersendiri soal fitur dari teknologi yang diimplentasikan.

Lalu, bagaimana dengan negara kita? Sebetulnya, Indonesia relatif terlambat dalam mengadopsi konsep smart city. Meski demikian, seperti kata pepatah “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”, perlahan beberapa kota besar di Tanah Air ‘mengebut’ mimpinya menjadi smart city demi menghindari keterbelakangan teknologi.

Tiga di antaranya adalah Jakarta, Bandung dan Surabaya. Mereka juga telah memiliki perjalanan yang cukup mengesankan menuju konsep utuh dari Smart City. The Daily Oktagon akan mengajak Anda kembali memantau jejak seputar laju adopsi Smart City di Indonesia.

Pelayanan Masyarakat Lewat Lounge

Dari awal konsep ini diterapkan, teknologi yang terimplementasi di Jakarta dan Bandung kini masih berfokus untuk pelayanan masyarakat. Meski masih memasuki fase awal, adopsi smart city pada kedua kota ini sudah dinilai agresif.

Konsep smart city versi Gubernur Jakarta bisa dibaca di sini

Menurut Mohamad Rosidi, General Manager Solution Consulting Huawei Indonesia, kota-kota tersebut sudah memiliki ekosistem smart city yang mendukung. Sebab, Jakarta, Bandung dan Surabaya memiliki jumlah penduduk yang padat.

Huawei sendiri merupakan salah satu vendor penyedia solusi jaringan yang sudah mengusung layanan Safe City untuk menjadi solusi penunjang aktivitas seperti e-government dan e-ticketing.

“Ketiga kota itu memiliki kepadatan penduduk yang tinggi sehingga ekosistem smart city menjadi memungkinkan. Kalau orang-orangnya banyak, aktivitas bisnis yang terjadi juga meningkat. Oleh karena itu, pelayanan masyarakat harus didongkrak dengan teknologi yang mumpuni,” kata Rosidi.

Sejauh ini, penerapan teknologi untuk memaksimalkan pelayanan masyarakat di Jakarta dan Bandung sudah dibuktikan dengan hadirnya “Smart City Lounge”. Di Jakarta, terdapat sebuah command center yang bertugas untuk mengatur komponen TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) smart city.

smart city

Walikota Bandung Ridwan Kamil di command center kota Bandung (sumber: https://portal.bandung.go.id)

Di command center ini, para staf merespon pengaduan warga via aplikasi Qlue seputar masalah-masalah yang terjadi, seperti banjir, kemacetan, keributan, kerusakan fasilitas, tindak kriminal, layanan kelurahan dan lainnya. Sekitar 200 hingga 300 jenis pengaduan diterima command center setiap harinya.

Bandung juga memiliki command center yang fokus pada beberapa aspek seperti pariwisata, transportasi, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan dan pengelolaan pemerintah. Walikota Bandung Ridwan Kamil sudah menargetkan inisiasi 1000 aplikasi pintar Bandung Smart City untuk pelayanan masyarakat.

Kesejahteraan Pendidikan dan Lingkungan

Rosidi juga mengungkapkan bahwa Surabaya memiliki penerapan teknologi smart city yang berbeda dibanding Jakarta dan Bandung. Jika Jakarta dan Bandung berfokus pada pelayanan masyarakat, Surabaya justru berfokus ke aspek-aspek yang menopang pendidikan, dan lingkungan–penanganan sungai dan sampah.

Meski berbeda konsep, Surabaya sempat didaulat menjadi tuan rumah forum Indonesia International Smart City Expo & Forum 2016 pada Juli lalu.

smart city

Salah satu sudut sungai di Surabaya

Apa masalah sektor teknologi di Indonesia? Simak di sini

“Semua kota itu telah menjalani proses digitalisasi yang sangat intens. Jika sudah fokus pada pelayanan masyarakat, lingkungan dan pendidikan, sudah saatnya mereka beralih ke jaringan transportasi, layanan darurat serta beberapa elemen lain,” ujar Rosidi, yang perusahaannya bersama Telkom Indonesia menjadikan Bandung sebagai pilot project Safe City.

“Karena seiring waktu terus berjalan, teknologi juga ikut berevolusi. Kita tak mungkin terpaku dengan satu konsep. Pemerintah juga harus siap dengan konsep semacam e-transportation, smart home, smart business district, semuanya butuh koneksi internet,” tambah Rosidi.

Maksudnya tentu koneksi internet yang menghubungkan satu perangkat ke perangkat lain, demi memudahkan orang-orang dalam menyelesaikan aktivitas hariannya. Teknologi ini disebut Internet of Things (IoT), Karena itu, IoT dianggap sebagai instrumen vital yang dapat menghidupi smart city.

Internet of Things Sebagai “Tulang Punggung” Smart City

Rosidi mengatakan bahwa pencapaian smart city yang ideal adalah adopsi utuh dengan ‘paket lengkap’ yang didukung IoT. “Smart city tidak akan bisa beroperasi dengan optimal jika tidak terkoneksi dengan internet antar perangkat pintar,” jelasnya.

Ia mengambil contoh, salah satu bentuk aktivitas IoT yang kini perlahan mulai diterima masyarakat adalah metode pembayaran cashless saat berbelanja.

Orang-orang tak perlu lagi repot mengeluarkan lembaran uang. Cukup dengan menge-tap smartphone-nya ke device yang mendukung teknologi NFC (Near Field Communication), maka transaksi akan berlangsung secara instan. “Sistem ini sudah diadopsi Apple dan Google, mereka sudah punya Android Pay dan Apple Pay,” timpal Rosidi.

Tak mentok pada cashless payment, implementasi IoT lain perlahan mulai beroperasi di ibukota. Menurut Setiaji, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jakarta Smart City, ada beberapa instrumen IoT yang sudah mendukung sektor pelayanan publik Jakarta. Misalnya Kartu Jakarta One Card yang bisa berfungsi sebagai e-KTP, kartu BPJS dan kartu untuk transaksi belanja.

“Sedangkan untuk mendompleng teknologi fasilitas ibukota, ada City Surveillance System (CCTV yang dipasang pada 6000 titik kota Jakarta) yang bisa diakses via aplikasi, pemasangan sensor GPS pada truk pengangkut sampah dan traktor, serta implementasi Smart Lighting System,” jelas Setiaji.

smart city

Setiaji, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jakarta Smart City

Internet of Things bisa diterapkan di berbagai bidang. Kesehatan salah satunya

Langkah dari masing-masing kota besar akan mendekati harapan smart city, ketika sudah didukung penuh oleh ekosistem IoT yang optimal. “Bayangkan, jika semua kota atau bahkan desa sudah menyerap implementasi IoT, mewujudkan smart city bukan lagi jadi perkara sulit,” jelas Setiaji.

“Indonesia itu populasinya lebih dari 235 juta jiwa. Kini 297 juta jiwa di antaranya merupakan pelanggan seluler yang aktif internet.Kalau adopsi IoT sangat cepat, kita akan memegang ‘pemeran utama’ pertumbuhan IoT dan Smart City terbesar di Asia Tenggara,” pungkasnya.

Smart city tampak menjanjikan utk masa depan masyarakat yang lebih nyaman dan efektif. Kita tunggu saja perkembangannya.

0 comments