NOW READING

Adek Berry, Fotografer (Tak Hanya) di Tengah Konflik

 1856
+
 1856

Adek Berry, Fotografer (Tak Hanya) di Tengah Konflik

by The Daily Oktagon

Sumber foto utama: Dokumentasi pribadi Adek Berry

  • Berawal dari menjadi awak majalah kampus, Adek jatuh cinta dengan fotografi jurnalistik.
  • Meski sering disebut sebagai fotografer daerah konflik, ia ternyata paling suka memotret olahraga.
  • Di sela-sela kesibukannya, Adek berusaha memenuhi kewajibannya sebagai ibu bagi anak-anaknya

Fotografer jurnalistik Adek Berry sudah makan asam garam pengalaman. Dari Papua hingga Afganistan pernah ia singgahi. Namun dengan pengalaman tersebut, tidak membuatnya seenaknya mengambil gambar.

Bertindak cermat jadi salah satu kunci menjalankan profesinya. Adek menegaskan, kalau kondisinya tidak memungkinkan, fotografer tidak perlu memotret. “Kita baru angkat kamera saja, kadang ada narasumber yang marah. Maka lakukan approach ke narasumber, minta izin dan bersikap terbuka,” kata Adek.

The Daily Oktagon mewawancarai fotografer Indonesia untuk kantor berita Perancis, AFP ini, usai mengisi acara workshop fotografi di Oktagon beberapa waktu lalu.

Bagaimana pertama kali terjun ke fotografi jurnalistik? Apakah karena faktor jurusan saat kuliah?

Gak nyambung sama sekali karena saya lulusan Fakultas Pertanian. Sebelumnya bahkan lebih gak nyambung lagi karena pernah kuliah di Jurusan Kedokteran Gigi.

Waktu kuliah di Jember, saya dapat hadiah kamera SLR, Yashica FX-3. Kalau kamera SLR kan kita harus tahu bagaimana cara motretnya sehingga bisa jadi fotonya. Buat saya selama belajar motret dan fotografi, ternyata asyik banget!

Di akhir-akhir masa kuliah saya mengenal fotografi jurnalistik dengan bergabung di majalah kampus. Dari sana, saya baru yakin bahwa sebenarnya inilah yang saya cari selama ini.

Memotret itu bakat alami atau kemampuan yang bisa diasah?

Kita mesti tahu kalau orang mengerjakan sesuatu yang dia suka, hasilnya akan berbeda. Nilainya mungkin sama-sama 8, tapi kalau dia mengerjakan sesuatu yang dia suka, feel dan taste-nya dapet.

Tapi, fotografi juga bisa dipelajari. Yang harus kita ubah adalah mindset kita. Seorang reporter misalnya, saat datang ke suatu lokasi, kita di-encourage buat memotret. When we take picture, we are photographer. When we write articles, we are writer.

Itu yang harusnya membuat kita bergerak.Saat kita mau motret, tapi mindset kita “I’m only reporter”, hasilnya gak akan maksimal. Jadi, menurut saya, dua-duanya pun betul. Memotret itu bukan cuma bakat, tetapi juga kemampuan yang bisa dipelajari dan diasah.

Dewan Pers mengeluarkan sertifikasi kompetensi jurnalis. Apa ini diperlukan di fotografi jurnalistik?

Di dunia fotografi jurnalistik pun sekarang sudah mulai bikin yang seperti itu. Cuma, itu baru banget diperkenalkan. So far yang diperlukan adalah ID (kartu pengenal) dari kantor dan ID akses ketika kita meliput, misalnya fotografer di Kementerian Pertahanan, TNI, atau Istana Negara.

Fotografer ketika makin banyak memotret, skill akan makin terasah, sehingga sertifikasi menurut sebagian orang bukan untuk fotografi jurnalistik, tapi untuk komersial.

Proses evakuasi korban jatuhnya pesawat Air Asia/Adek Berry

Proses evakuasi korban jatuhnya pesawat Air Asia/Adek Berry

Berarti Anda tidak sepakat?

Bukan tidak sepakat. Selama belasan tahun menekuni fotografi jurnalistik, saya mendapatkan semuanya secara berproses. Saya mendapatkan semua itu dari learning by doing. Sampai sekarang pun saya masih belajar dan terus belajar karena kemampuan kita seperti investasi yang kita tabung dari hari ke hari.

 Fotografer senior Darwis Triadi bicara dampak teknologi. Selangkapnya di sini

Anda disebut fotografer daerah konflik. Ketika memutuskan menggeluti ini, keluarga tidak khawatir?

Sebelum saya jawab, yang kasih label itu media ya, karena mereka memang menulis dengan angle gitu. Padahal saya tidak cuma motret di daerah konflik, tapi di banyak bidang.

Kalau soal keluarga, yang terpenting adalah komunikasi. Sebenarnya memang berat. Namun yang harus ditunjukkan adalah kita memang mau dan mampu, bukan atas dasar suruhan orang. Kantor saya saja sebetulnya cuma menawarkan, dan waktu itu saya mau dan mempersiapkan diri supaya mampu.

Saya mengikuti berbagai training dan simulasi seperti memotret di daerah berbahaya, demonstrasi rusuh, kondisi perang, atau bencana alam. Kalau sudah lulus training, berarti sudah dianggap mampu untuk dikirim ke daerah seperti itu. Sekarang tinggal tanya ke diri sendiri, mau gak menjalani itu semua?

Kalau diminta untuk memilih, bidang foto mana yang paling disukai?

Olahraga, karena itu asyik banget. Saat motret soal olahraga, kita gak berkompetisi dengan orang lain, tapi berkompetisi dengan diri sendiri untuk menghasilkan momen terbaik.

Maksudnya?

Memotret olahraga itu sangat dinamis dan sportif. Gak akan ada orang yang bilang, “Jangan motret!” Tantangannya justru ketika kita mau ambil peak moment. Kedua, saya suka olahraga. Para pelaku olahraganya pun otomatis jadi figur yang kita suka.

Meski saya gak bisa bermain satu jenis olahraga, saya jadi tahu bagaimana kehidupan atlet olahraga tersebut. Misalnya, saya senang sama tenis, saya tahu seperti apa glamornya pemain tenis, bagusnya permainan dan daya tahan mereka, dan perjuangannya seberapa.

Proses Pemakaman mantan PM SIngapura Lee Kuan Yew/Adek Berry

Proses Pemakaman mantan PM SIngapura Lee Kuan Yew/Adek Berry

Suka duka selama menjadi fotografer jurnalistik?

Yang membuat saya merasa punya sumbangan adalah, hasil kerja saya mendorong banyak orang seperti para donatur dan otoritas yang harusnya memerhatikan peristiwa itu. Mereka jadi berpikir dan akhirnya melakukan sesuatu untuk perubahan.

Walau seakan-akan kita cuma merekam kesedihan orang, misalnya habis gempa bumi, namun dampak dari liputan kita bisa hingga ke nasional bahkan internasional. Para negara donor dan Tim SAR berbagai negara pun datang. Di sini ada dampak positif dari kegiatan saya yang “cuma” merekam kepedihan orang.

Agar hasil foto lebih dramatis, simak tipsnya di artikel ini

Peralatan kamera yang selalu dibawa saat peliputan?

Kalau kamera saya selalu bawa 2 body kamera. Kebetulan AFP saat ini memakai Nikon, sehingga saya bawa Nikon D4 dan D4s. Setiap harinya saya bawa wide lens 14 – 24 mm, medium lens 28 – 70 mm dan tele zoom 70 -200 mm. Namun lensa berbeda-beda sesuai kebutuhan. Untuk motret olah raga misalnya, saya bawa lensa tele fix 300 mm.

Ketika sering tugas ke luar kota atau luar negeri, apakah keluarga mengeluh atau protes?

Kalau protes langsung sih enggak, tapi namanya anak-anak itu manja. Saya berusaha memenuhi kewajiban sebagai ibu, sebagai teman, pengasuh, bahkan sebagai pembantu. Saya mencoba untuk meningkatkan kualitas daripada kuantitas, karena saya gak bisa selalu sudah hadir di rumah ketika mereka pulang sekolah.

dok. Facebook Adek Berry

dok. Facebook Adek Berry

Ada saran dan nasihat untuk pemula?

Menjadi fotografer jurnalis itu berproses. Kehadiran alat-alat dan teknologi sekarang ini cenderung membuat orang menjadi malas. Kita harus mengerti prinsip foto itu diproses sampai hasil akhirnya. Suatu kemunduran kalau pemula hanya mengandalkan teknologi tanpa mau mempelajari teknologi itu sendiri

Carilah pengalaman sebanyak mungkin. Saya pribadi ingin punya pengalaman di luar motret, mulai soal politik, ekonomi, hukum. Walau saya pernah motret kondisi pasca pengeboman, setelah konflik di Ambon, Dili, atau Poso, tetapi ketika pergi motret ke Afganistan, pasti berbeda.

Banyak aspek berbeda. Dari segi budaya, ekonomi, politik, dan hukum. Banyak yang bisa kita dapatkan untuk memperkaya pengalaman hidup. Semua itu harusnya bisa membuat kita mengetahui hikmah di baliknya.

 

0 comments