NOW READING

Abang None Jakarta dan Era Kontes Digital

 1965
+
 1965

Abang None Jakarta dan Era Kontes Digital

by The Daily Oktagon

Sumber foto utama: IG @abnonjakarta @abnonjakpus

  • Ajang Abnon yang sudah berusia 48 tahun kini merasakan sentuhan dan manfaat dunia digital.
  • Kini Abnon mendayagunakan media sosial dan platform video untuk menunjang aktivitas promosi kebudayaan DKI Jakarta
  • Pemanfaatan teknologi terjadi dari proses seleksi, hingga untuk para alumni Abnon yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta

“@abnontimur #eastthebest #timurmenggempur” begitu kira-kira judul foto yang diunggah oleh akun Instagram Abang & None Jakarta Timur. Berbagai aktivitas, pengumuman hingga kampanye rapi terdokumentasi di dalam akun @abnontimur.

Era telah berganti, begitu pula bagi ajang pencarian duta pariwisata DKI Jakarta, Abang & None (Abnon), yang telah melintas zaman sejak pertama kali digelar tahun 1968 (1968-1969 hanya mencari None Jakarta) hingga sekarang.

40-an tahun lalu, para peserta Abnon tentu saja belum merasakan sentuhan digital, keriuhan media sosial yang juga terbilang baru karena muncul di awal 2000-an. The Daily Oktagon pun mencoba menggali gaya hidup digital para Abang dan None di masa kini.

Beda Generasi, Beda Cerita

Penggunaan hashtag di media sosial dan penggunaan gadget, dulu tidak dirasakan Bima Sastranegara, Abang Jakarta 2003. “Dulu untuk menentukan Abnon Favorit, dilakukan voting telepon atau SMS,” imbuh presenter olahraga ini. Belum lagi media sosial yang ada saat itu hanya Friendster dan Facebook.

Tak hanya itu, menurut Bima ketika ia berlaga di pemilihan Abnon 13 tahun lalu belum didukung dengan kamera handphone yang canggih. “Kamera mirrorless jelas belum ada, kamera pocket digital yang saat itu sedang tren. Belum ada selfie, karena kamera depan handphone juga belum ada,” ujar Bima sambil tertawa.

Bima di tengah tugasnya sebagai presenter (dok. IG Bima Sastranegara)

Bima di tengah tugasnya sebagai presenter (dok. IG Bima Sastranegara)

Bima kian menyadari kini media sosial digunakan untuk berkampanye memilih ketua alumni Abnon untuk wilayah tertentu, hingga kepengurusan Ikatan Abang None Jakarta (IANTA). Bima mencontohkan untuk Ikatan Abang None Jakarta Selatan, karena dirinya berasal dari wilayah ini, yang sudah melek digital.

“Siapapun bisa ikut berpartisipasi. Setiap kandidat boleh berkampanye, memaparkan visi misi dengan membuat video berdurasi beberapa detik. Video itu lalu diunggah ke Instagram atau media sosial lain,” jelasnya.

Abnon dari berbagai wilayah juga sudah memiliki akun Instagram dan Youtube resmi untuk memperlihatkan agenda kunjungan dan beragam aktivitas lainnya.

Bagaimana kalau para dokter yang bicara gaya hidup digital? Simak di sini

Kini di era serba digital, tak hanya tali silaturahmi peserta Abnon yang dengan mudah terjalin antar wilayah dan antar angkatan, tapi juga telah membantu prosesi pemilihan. Hal tersebut dirasakan oleh finalis Abnon 2016 dari wilayah Jakarta Barat, Inas Syadzwina.

Baginya teknologi berperan vital selama proses karantina hingga kompetisi Abnon. “Waktu mendaftarkan diri untuk menjadi peserta, informasi tentang pemilihan sangat mudah diakses karena bisa dilihat di situs resmi Abnon Barat.

Pengisian formulir pendaftaran juga dilakukan secara online. Dan yang lolos ke tahap berikutnya diumumkan melalui akun instagram Abnon Jakarta Barat (@abnonbarat),” ungkap mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Inas menyadari bahwa media sosial sangat berperan dalam merangkul keterlibatan publik. Ia mencontohkan saat di karantina, setiap harinya ada penghargaan Abnon of the Day bagi peserta yang performanya maksimal hari itu. Untuk di Abnon Barat, para pemenang akan ditampilkan di Instagram.

Hal ini tidak luput terjadi pada Inas. Suatu hari ia dinominasikan sebagai None of The Day. “Saat ke kampus, teman saya tiba-tiba bilang,‘Nas, kemarin terpilih jadi Abnon of The Day ya? Gue lihat di IG-nya Abnon Barat.’ Saya tidak menyangka orang-orang begitu memerhatikan media sosial dan baru menyadari betapa berpengaruhnya media sosial untuk publik,” kenangnya.

Biar akun Instagram Anda semakin banyak follower-nya, lihat caranya di sini

Peran media sosial juga rupanya penting untuk pemilihan Abnon Favorit. Menurut Inas, Abnon Jakarta Barat sudah memanfaatkan Instagram dan LINE untuk melakukan voting Abnon Favorit. Likes kumulatif dari dua media sosial tersebut digunakan untuk menentukan pemenang selempang favorit.

Semua kegiatan Abnon Barat menurut Inas dipublikasikan dan bisa dipantau melalui media sosial. Ia pun merasakan bahwa smartphone semakin hari semakin canggih dan hampir semuanya tersedia dan terkoneksi di dalam perangkat pintar tersebut.

Silaturahmi Whatsapp Group Hingga Bantuan Go-Jek

Dengan kemajuan teknologi digital saat ini, memudahkan terjalinnya komunikasi dengan para alumni Abnon. Itulah yang dirasakan Bima. Ia merasa sangat diuntungkan dengan kehadiran teknologi WA Group.

“Grupnya pun bermacam. Ada yang khusus Abang Jakarta, yang sesuai wilayah, atau ada pula yang sesuai angkatan. Saya juga ikut LINE Group-nya Ikatan Abang None Jakarta (IANTA),” papar Bima yang sehari-hari menggunakan Samsung S7 untuk menunjang aktivitasnya.

Sementara Inas melihat, kemajuan teknologi digital menguntungkan para peserta Abnon saat ini dalam menjalankan segala aktivitasnya. Mudahnya proses pendaftaran, pengorganisasian data dan informasi juga terasa lebih mudah dan praktis.

“Dokumentasi seperti foto saat kita bertugas juga lebih mudah di-share lewat Google Drive atau Dropbox. Begitu pula dengan adanya productivity apps seperti Google Docs dan Todoist sangat membantu mencatat agenda acara dan sekaligus bisa memasang notifikasi alarm,” terang Inas.

Inas (berkerudung kuning) saat mengikuti abnon (dok. pribadi)

Inas (berkerudung kuning) saat mengikuti abnon (dok. pribadi)

Bagi Inas, aplikasi taksi dan ojek online seperti Go-Jek dan Uber juga memberi jasa tersendiri selama karantina. “Terkadang kami butuh instant delivery, misalnya mengirimkan konde dari toko ke tempat karantina atau mengirim baju agar tetap rapi, dan aplikasi transportasi online sangat membantu,” ungkap pengguna iPhone 5S dan Macbook Air ini

Membangun Aplikasi Abnon

Tentu teknologi harus dirangkul agar potensi dan manfaatnya bisa dipetik secara maksimal. Inas berharap teknologi bisa diterapkan secara optimal untuk memperkenalkan aktivitas Abnon dan kekayaan budaya Betawi lebih luas lagi.

Sedangkan Bima mengungkapkan salah satu keunggulan Abnon adalah networking yang luas. Alumni para peserta Abnon berjumlah ratusan dan dari tahun ke tahun jumlahnya bertambah, tersebar di berbagai wilayah dengan berbagai latarbelakang pekerjaan yang beragam.

Grup LINE ikatan abnon

Grup LINE ikatan abnon

Bima mendambakan jika suatu hari ada aplikasi digital yang menaungi dan mengorganisir seluruh Abnon dari berbagai wilayah dan angkatan. Para alumni bisa memasukkan data, pekerjaan dan lainnya.

Bima menyebut aplikasi ini semacam Facebook dan Linkedin khusus Abnon, sehingga mereka bisa saling terhubung, berbagi jejaring dan kesempatan bekerjasama. “Karena Abnon tidak akan mati dan akan terus berkembang,” tutup Bima optimis.

Sebuah usulan yang menarik, agar tradisi “tradisional” semacam Abnon, dapat memaksimalkan teknologi digital modern saat ini.

Kalau artikel yang ini, tentang para musisi dan gadget andalan mereka

0 comments