NOW READING

“Aar” Sumardiono, Teknologi Digital untuk Homeschooling

 2327
+
 2327

“Aar” Sumardiono, Teknologi Digital untuk Homeschooling

by The Daily Oktagon

Meski terus menuai pro dan kontra, keberadaan homeschooling atau home education (HE) sebagai alternatif upaya pendidikan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Keluarga Sumardiono menjadi salah satu contoh keluarga yang secara teguh dan kosisten menerapkan sistem homeschooling bagi anak-anaknya.

Bersama istrinya Mira Julia (Lala), Aar pangilan akrab Sumardiono, menjalankan home education (HE) untuk ketiga anaknya, Yudhistira (15 tahun), Tata (11 tahun), dan Duta (7 tahun). Sejak kecil mereka menjalani pembelajaran mandiri dan tak pernah pergi ke sekolah hingga saat ini. Yudhistira beberapa waktu lalu baru saja menyelesaikan Ujian Paket B (setingkat SMP).

Baca artikel lain terkait perkembangan teknologi asisten virtual di Indonesia

Aar dan Lala pun merilis website Rumah Inspirasi, sebagai sarana berbagi tentang berbagai kegiatan HE yang mereka lakukan. Teknologi digital otomatis menjadi bagian tak terpisahkan dari proses HE yang dijalankan keluarga ini. The Daily Oktagon pun berbincang dengan Aar tentang kegiatan HE dan keterkaitannya dengan teknologi digital. Berikut obrolannya:

Bagaimana kesibukan keluarga Anda sehari-hari dalam melakukan Home Education (HE)?

Kegiatan belajar yang dilakukan anak-anak memiliki beberapa pola. Selain melakukan kegiatan mandiri dan menggunakan bantuan teknologi, anak-anak berkegiatan bersama teman-teman homeschooling di Klub Oase (komunitas para keluarga pelaku HE).

Selain itu, anak-anak mengikuti aneka kegiatan eksternal seperti klub basket, berenang, gymnastic, futsal, dan dance. Sebagai orangtua, fungsi kami adalah membantu merencanakan dan mengelola kegiatan anak-anak. Sebagian besar kegiatan anak-anak dilakukan secara mandiri.

keluarga sumardiono aar

Formasi lengkap keluarga “Aar” Sumardiono. (Sumber foto: dokumen pribadi)

Apa kunci sukses penerapan HE sehingga bisa berjalan konsisten dengan output yang maksimal?

Kunci utama adalah keyakinan dan kejelasan arah proses HE yang ingin dijalani di keluarga. HE berangkat dari visi pendidikan keluarga, sehingga keluarga yang menjalani HE harus punya arah yang jelas agar tak mudah terombang-ambing oleh berbagai masalah praktis di lapangan. Setelah itu, kelenturan menjalani keseharian untuk beradaptasi dengan kondisi apapun yang terjadi di lapangan.

Kunci penting dalam keberhasilan proses HE adalah komunikasi yang baik antara orangtua dan anak. Orangtua merasa nyaman terus-menerus bersama anak. Sebaliknya, anak juga harus merasa nyaman saat bersama orangtuanya.

Sejauh mana peranan teknologi digital dalam kegiatan HE di rumah Anda?

Ada 3 pilar HE yang kami jalankan bersama anak-anak di rumah, yaitu menyiapkan anak-anak menjadi pembelajar mandiri (self-directed learner), belajar melalui keseharian dan dunia nyata, serta memanfaatkan teknologi untuk proses belajar.

Kami lebih menekankan pada keterampilan belajar (learning skills) daripada sekadar hafalan atau penguasaan materi belajar. Jika anak terampil belajar, materi apapun bisa mereka pelajari. Keluarga kami sangat banyak menggunakan teknologi digital dalam proses HE yang kami jalani di rumah karena teknologi membantu mempermudah proses HE dan sekaligus menjaga kualitas proses belajar yang dijalani anak-anak

Bisa berikan contoh-contoh konkret penggunaanya dalam aktivitas HE?

Antara lain penggunaan Google untuk mencari ide kegiatan belajar anak-anak, video YouTube untuk mencari tutorial kegiatan, atau Facebook dan Whatsapp untuk berjejaring dengan sesama praktisi HE.

Simak pula bahasan tentang tren konsumsi video online dan bagaimana posisinya dibandingkan tayangan televisi

Kami juga mengikuti kelas-kelas online untuk belajar aneka keterampilan praktis dan dunia profesional seperti menggambar, pemrograman, desain, animasi. Kelas-kelas online juga digunakan untuk belajar aneka pelajaran, misalnya menggunakan Khan Academy, IXL Math, Reading Eggs, dan Raz Kids.

homeschooling

IXL Math salah satu tool pendukung kegiatan homeschooling.

Sejauh mana Anda menilai pentingnya teknologi dalam pendidikan?

Teknologi adalah enabler factor yang sangat penting untuk membuka akses terhadap materi pendidikan yang berkualitas dari berbagai penjuru dunia. Teknologi bisa memberikan lompatan jauh yang menghapus keterbatasan sumber daya fisik dan lokal.

Melalui Internet, anak-anak bisa mendapatkan materi belajar “berkelas dunia”, yang serupa dengan yang digunakan anak-anak di belahan dunia yang lain. Kuncinya adalah kemampuan orangtua atau guru untuk memanfaatkan teknologi tersebut, dengan meminimalkan dampak samping yang buruk pada anak.

Bagaimana Anda menerapkan peraturan penggunaan mobile devices dalam keluarga?

Kami ingin memastikan teknologi menjadi hal yang produktif dan positif. Di rumah, kami menerapkan beberapa sikap dasar dan aturan main yang berkaitan dengan teknologi, misalnya anak-anak tidak memiliki gadget. Status perangkat yang mereka gunakan adalah meminjam kepada kami, orangtuanya.

Kemudian tidak ada gadget selama acara bersama, misalnya saat makan bersama di meja makan. Teknologi dan internet juga utamanya digunakan untuk hal-hal yang sifatnya produktif seperti belajar dan berkarya.

Bermain game dan menonton dilakukan hanya pada hari libur atau waktu-waktu lain yang diizinkan. Tujuan bermain game dan menonton adalah sebagai hiburan agar bersemangat dalam keseharian. Jika game atau tontonan membuat emosi anak-anak menjadi labil, akan dilakukan penyesuaian agar terjadi perubahan. Penyesuaian bisa berupa pengurangan waktu, pembatasan, hingga pengalihan pada kegiatan lain.

Anda juga melakukan webinar. Bisa Anda jelaskan lebih lanjut tentang aktivitas ini?

Webinar atau seminar online kami gunakan untuk memberikan edukasi kepada orangtua yang sedang menimbang untuk melakukan HE, atau ingin belajar cara menjalaninya.

aa sumardiono homeschooling

“Aar” Sumardiono saat berbicara tentang homeschooling di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Webinar homeschooling membahaskan tentang apa itu homeschooling, modelnya, serta cara menjalaninya di keluarga masing-masing. Melalui webinar, kami ingin memberikan kemudahan untuk memahami proses belajar HE secara lengkap, mulai konsep, hingga tips praktis berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kami.

Baca juga ulasan kami tentang Monogram Books, yang pas untuk penggemar fotografi

Aktivitas ini sudah berjalan beberapa tahun dan diikuti ratusan peserta dari berbagai kota, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Peserta datang dari berbagai kota, bahkan dari Papua; serta juga keluarga Indonesia yang sedang belajar atau bekerja di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Korea Selatan, Belanda, Inggris, Mesir, Oman, dan Turki.

Website Rumah Inspirasi yang Anda buat juga sangat aktif. Bagaimana cara Anda mengelolanya?

Kami mengelola website bersama dan menjadikannya sebagai komitmen kontribusi kami ke masyarakat di dunia pendidikan. Kami memproduksi berbagai bentuk media untuk proses edukasi, seperti artikel, ebook, podcast, dan video YouTube. Kami usahakan untuk melakukan posting minimal 3 kali seminggu dan memanfaatkan media sosial untuk memaksimalkan jangkauan dan manfaatnya.

Bagaimana Anda membagi waktu antara kegiatan HE, webinar, dan waktu untuk Anda pribadi?

Intinya kami mengintegrasikan dan menyelaraskan semua hal menjadi gaya hidup kami. Menjalani semua kegiatan yang padat itu adalah bagian dari idealisme dan sukacita. Walaupun terkadang melelahkan, kami menjadikannya sebagai satu kesatuan yang kami nikmati.

Feedback dari publik yang merasakan manfaat dari kehadiran Rumah Inspirasi adalah salah satu penyemangat dan indikasi, bahwa yang kami lakukan memang berdampak bagi masyarakat.

Ke mana arah untuk Indonesia berdikari di era digital? Simak bahasannya berikut ini

0 comments