NOW READING

3 Kamera Mirrorless Terbaik yang Bisa Jadi Pilihan

 6486
+
 6486

3 Kamera Mirrorless Terbaik yang Bisa Jadi Pilihan

by The Daily Oktagon

Anda sedang berburu kamera mirrorless baru? Budget yang Anda punya cukup besar dan Anda pun otomatis mencari kamera mirrorless terbaik dengan titik kompromi yang paling minimal.

fujifilm-x-t1-01

Dari sekian banyak kamera mirrorless, opsi terbaik yang tersedia pun menciut menjadi tiga: Fujifilm X-T1, Olympus OM-D E-M1 dan Sony A7 II. Pertanyaan selanjutnya, manakah yang terbaik dari ketiga kamera ini?

Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing kamera ini; kita semua tahu bahwa tidak ada satu pun yang sempurna. Dalam artikel ini, kita akan membahas masing-masing kamera dari tiga aspek terpenting: desain & handling, kualitas gambar dan performa.

Baca juga: 4 Kamera Mirrorless dengan Kemampuan Selfie

Desain & Handling

Tampak luar ketiga kamera ini sebenarnya mengadopsi gaya DSLR lawas dengan adanya ‘punuk’ di bagian tengah masing-masing. Ketiganya memiliki rangka yang terbuat dari magnesium, dan mereka juga tahan terhadap cuaca ekstrem. Anda sering memotret saat hujan turun? Lakukan saja tanpa perlu merasa khawatir.

Meski sama-sama tampak dan terasa premium, Olympus OM-D E-M1 unggul soal keringkasan. Kamera ini memiliki dimensi paling kecil dibanding ketiganya, akan tetapi hand grip-nya masih terasa mantap untuk digenggam – paling mantap kalau menurut pendapat kami. Soal bobot, Sony A7 II adalah yang paling berat dan satu-satunya yang menembus angka di atas 500 gram – masih jauh lebih ringan ketimbang DSLR kelas atas.

Ketiga kamera sama-sama dibekali dengan seabrek tombol dandial, sehingga kontrol pun jelas tidak kalah dibanding DSLR kelas profesional sekalipun. Pun begitu, Fujifilm X-T1 adalah yang terasa ‘paling analog’ berkat kehadiran dial khusus setting ISO pada sisi kiri pelat atasnya.

olympus-om-d-e-m1-02

Electronic viewfinder (EVF) hadir pada ketiga kamera, dan semuanya memakai panel beresolusi 2,36 juta dot. Membidik menggunakan EVF milik Olympus OM-D E-M1 tidak terasa selapang menggunakan EVF milik kedua kamera lainnya. Kendati demikian, OM-D E-M1 adalah satu-satunya kamera di sini yang dibekali layar sentuh.

Kualitas Gambar

Masuk ke aspek paling utama, sejatinya ketiga kamera sanggup menghasilkan gambar yang sangat bagus dan sangat mendekati DSLR profesional – bahkan melampauinya dalam beberapa kasus. Ketiganya memakai sensor dengan ukuran yang berbeda-beda (urut dari yang terkecil): Micro Four Thirds pada Olympus OM-D E-M1, APS-C pada Fujifilm X-T1 dan full-framepada Sony A7 II.

sony-a7-ii-02

Agar lebih mudah memahami, mari membahasnya satu per satu, dimulai dari Olympus OM-D E-M1. Micro Four Thirds memang bukan sensor dengan ukuran terbesar, dan resolusinya di sini pun ‘hanya’ 16 megapixel, dengan rentang ISO 100 – 25600. Namun demikian, hasil fotonya di kondisi pencahayaan rendah masih tergolong apik dan noise yang tampak bisa dibilang minimal. Satu hal yang banyak disetujui para pengguna kamera mirrorless adalah, gambar yang dihasilkan sensor Micro Four Thirds memiliki ketajaman dari ujung ke ujung yang paling baik.

Meski memakai sensor APS-C yang berukuran lebih besar, resolusi sensor Fujifilm X-T1 tidak jauh berbeda, ‘hanya’ 16,3 megapixel, dengan rentang ISO 100 – 51200. Berdasarkan pengalaman pribadi dan pendapat banyak rekan, warna yang dihasilkan Fujifilm X-T1 ini sangat akurat dan alami. Performanya di kondisi low-light pun tidak kalah dari Sony A7 II, yang notabene mengemas sensor full-frame.

Sony A7 II tak hanya unggul soal ukuran sensor, tetapi juga resolusi, yakni 24 megapixel, dengan rentang ISO 50-25600. Secara teori, dan berdasarkan pengakuan sejumlah penggunanya, dynamic range Sony A7 II adalah yang terbaik. Tak hanya itu, performanya di ISO tinggi pun juga mengagumkan.

sony-a7-ii-01

Sebagai tambahan, Fujifilm X-T1 adalah satu-satunya kamera di artikel ini yang tidak dilengkapi image stabilizer internal. Baik Olympus OM-D E-M1 dan Sony A7 II telah mengemas image stabilizer 5-axis yang terbukti efektif meredam guncangan akibat genggaman yang kurang stabil.

Ketiga kamera juga bisa merekam video hingga resolusi maksimal 1080p 60 fps. Sony A7 II sedikit diunggulkan berkat kemampuannya merekam dengan codec XAVC S ketimbang AVCHD.

Soal lensa, Olympus OM-D E-M1 juaranya, berkat begitu banyaknya lensa Micro Four Thirds yang tersedia, baik yang diproduksi Olympus, Panasonic, maupun pihak lain seperti Voigtlander. Menyusul adalah Fujifilm X-T1, dimana koleksi lensanya yang berkualitas terus bertambah lengkap, namun sayang harganya seringkali sangat tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk lensa milik Sony A7 II.

olympus-om-d-e-m1-01

Performa

Performa adalah aspek yang tak boleh dilupakan di samping kualitas gambar. Pertama-tama, mari membahas soal sistem autofocus masing-masing kamera. Ketiganya sama-sama memakai sistem hybrid AF, yang merupakan kombinasi sistem contrast detection dan phase detection. Hal ini berarti, secara teori, ketiganya cukup handal soal menangkap dan mempertahankan fokus terhadap objek bergerak.

Bagaimana dengan kecepatan autofocus-nya? Kalau berdasarkan pengalaman pribadi, Olympus OM-D E-M1 adalah yang paling responsif dan cepat menangkap fokus dalam mode single AF, disusul oleh Fujifilm X-T1, dan Sony A7 II di belakang.

fujifilm-x-t1-02

Soal burst rate, Olympus OM-D E-M1 bisa menjepret dengan kecepatan 10 fps dalam resolusi maksimum. Fujifilm X-T1 menyusul dengan angka 8 fps, dan Sony A7 II harus puas dengan 5 fps. Terlepas dari itu, ketiganya memiliki ukuran buffer yang cukup besar, yang berarti Anda bisa menjepret tanpa henti hingga sekitar 40 – 50 gambar sekaligus.

0 comments