NOW READING

​​​​Fenomena Kecerdasan Buatan Milik Facebook, Haruskah Ditakuti?​

 1708
+
 1708

​​​​Fenomena Kecerdasan Buatan Milik Facebook, Haruskah Ditakuti?​

by The Daily Oktagon

Sumber foto utama: Facebook

  • Facebook menutup program AI yang tengah dikembangkan dalam bentuk chatbot
  • Dalam perkembangannya chatbot ini telah melakukan modifikasi terhadap bahasa yang telah diprogramkan dan bahasa ini tidak bisa dimengerti oleh para penelitinya.
  • Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, Google pun pernah mengalami hal serupa.

Beberapa waktu yang lalu, Facebook menjadi tajuk utama di portal-portal besar di dunia saat Facebook memutuskan untuk menghentikan program artificial intelligence (AI) buatannya karena dideteksi telah membuat bahasanya sendiri.

Spekulasi pun bermunculan. Beberapa media besar bahkan mulai menghubungkan fenomena ini dengan awal mula bagaimana kecerdasan buatan bisa menghancurkan umat manusia seperti yang kerap menjadi santapan kreatif orang-orang di Hollywood sana.

“’Kecerdasan robot sangat berbahaya,’ peringatan seorang ahli setelah AI milik Facebook mengembangkan bahasanya sendiri,” seperti yang dilansir oleh The Mirror.

Sudut pemberitaan serupa juga diangkat oleh The Sun, The Independent, The Telegraph dan di beberapa portal daring lainnya. Namun, sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa Facebook menghentikan program tersebut? Dan haruskah kita semua panik dan mulai mengkhawatirkan apa yang telah terjadi di film-film akan menjadi kenyataan?

Jawabannya, kemungkinan besar tidak. Meskipun beberapa pemikir ternama – termasuk Stephen Hawking, Elon Musk, Bill Gates, dan Steve Wozniak – mengatakan bisa saja suatu waktu AI mengancam kehidupan manusia, tapi fenomena AI Facebook ini bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.

Berawal dari Program Chatbot

Teknologi chatbot saat ini memang telah menjadi topik panas di kalangan dunia teknologi. Facebook pun tak mau ketinggalan tren ini dengan mulai mengembangkan chatbot mereka sendiri.

Eksperimen pertama dilakukan dengan menciptakan dua chatbot yang dirancang untuk bisa berkomunikasi dalam percakapan dagang. Misalnya untuk bernegosiasi, menukar topi, bola, dan buku, serta menentukan harga barang tersebut.

Eksperimen ini dilakukan dalam upaya untuk memahami bagaimana linguistik berperan dalam cara mereka berdiskusi saat proses negosiasi dan yang terpenting adalah bagaimana kemampuan mereka dalam mendominasi percakapan.

Namun, dalam perkembangannya kedua chatbot ini menciptakan perubahan sendiri terhadap bahasa yang digunakan sehingga memudahkan mereka untuk bekerja. Sayangnya perubahan bahasa ini hanya dimengerti oleh chatbot tersebut, dan meninggalkan hal yang misterius bagi peneliti yang mengembangkan mereka.

Perkembangan teknologi AI di dalam rumah? Baca artikel ini.

Bukan Fenomena Baru

Perubahan bahasa yang dilakukan AI bukanlah fenomena baru di dunia teknologi. Modifikasi bahasa ini mereka lakukan semata-mata memang hanya untuk interaksi yang lebih efisien.

Situs teknologi Gizmodo mengatakan, “Meskipun terlihat menyeramkan, hal ini dilakukan dalam usaha untuk belajar dari satu sama lain, bot tersebut mulai berbincang terbolak-balik dalam stenografi yang diturunkan.”

Kasus yang sama pernah dialami Google saat mengembangkan software penerjemah mereka. “Jaringan telah meng-encode unsur semantik dalam tataran kalimatnya,” jelas Google dalam sebuah blog.

Contohnya lainnya adalah saat Wired memberitakan seorang peneliti di OpenAI yang tengah mengerjakan sebuah sistem yang memiliki AI yang menciptakan bahasa mereka sendiri dan meningkatkan kemampuan mereka untuk memproses informasi dengan cepat dan dapat mengatasi masalah yang sulit secara lebih efektif.

Facebook sendiri telah menutup program chatbot ini dan mengatakan bahwa langkah ini dilakukan bukan atas dasar kepanikan atau ketakutan. Penutupan program ini dilakukan karena tujuan mereka awalnya adalah menciptakan bot yang bisa berbicara dengan manusia, seperti yang dikatakan oleh peneliti bernama Mike Lewis kepada FastCo.

Perkembangan teknologi ke depannya memang masih dalam tanda tanya besar. Semua inovasi masih bisa diwujudkan, tapi tetap dengan tujuan untuk membantu dan mendukung umat manusia dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya.

Baca juga:Bagaimana Masa Depan Teknologi di Tangan Millennial Indonesia?

0 comments