NOW READING

Selamat Datang di Era Mirrorless!

 4497
+
 4497

Selamat Datang di Era Mirrorless!

by The Daily Oktagon

Satu dekade kemarin, kamera DSLR bisa jadi selalu berada di posisi puncak pilihan para pelaku fotografi. Masyarakat tidak lagi perlu mengganti gulungan film atau meraba-raba hasil jadi sebuah foto sampai tiba di kamar gelap. Sebab para fotografer telah dimanjakan dengan semua fitur digital, mulai dari layar preview, pengaturan full-auto, dan berbagai hal lain yang memudahkan.

DSLR pun semakin menjadi primadona ketika fitur rekam video hadir pada perangkat tersebut. Bisa dibilang, fitur itu melahirkan sebuah fenomena baru dalam produksi video. Hingga videografer indie bermunculan, merayakan hadirnya perekam video yang lebih ringkas dan tentunya lebih terjangkau secara harga. Dan pada 2004, lahir kamera mirrorless pertama di dunia, Epson R-D1. Namun, Panasonic Lumix DMC-G1 lah (rilis pada akhir 2008 di Jepang) yang punya andil penting dalam memopulerkan kamera mirrorless.

Saat itu, tren kamera mirrorless belum terlihat begitu menjanjikan. Karena fitur yang mereka tawarkan masih sejauh ringkas dan praktis. Tetapi secara kualitas gambar, masih lebih powerful hasil dari kamera DSLR.

Pandangan tersebut tidak mempengaruhi Enche Tjin dalam menjajal kamera dengan teknologi live preview yang tidak dimiliki DSLR. Sebagai fotografer, sekaligus penulis buku dan blog fotografi, ia langsung menjajal kamera Lumix DMC-G1—kamera mirrorless pertama yang mengusung sistem Micro Four Thirds.

Regular_Image_-_Enche_Tjin

Enche Tjin

 

“Yang menarik dari mirrorless adalah ukuran yang lebih ringkas dan ringan. Rata-rata, lensanya juga lebih ringan dari lensa kamera DSLR,” jelas pria yang kini sering menggunakan kamera mirrorless Sony Alpha a7 dan Alpha a6000.

Sebagai fotografer, Enche juga merasa sangat tertolong dengan fitur autofocus saat live view yang lebih aktual. Belum lagi, jendela bidik elektronik pada kamera mirrorless bisa memberikan gambaran tentang hasil foto sebelum memotret. Misalnya terang-gelap, warna, dan titik fokus. Sedangkan pada kamera DSLR, jendela bidik optik hanya berupa prisma atau kaca.

“Jendela bidik elektronik dan live view itu keunggulan paling keren dari kamera mirrorless. Maka dari itu, tidak heran jika teknologi autofocus-nya terus berkembang. Sekarang ada autofocus hybrid untuk deteksi kontras dan fase, serta face detection,” kata Enche. “Ditambah lagi, saat menggunakan mode fokus manual, ada bantuan focus peaking.

Regular_Image_-_Entjhe_3

Seperti diketahui, focus peaking merupakan fitur yang diboyong dari “dunia” rekam video. Fitur ini meng-highlightarea bidikan yang in-focus, untuk membantu fotografer fokus secara manual.

Bicara soal kendala, Enche merasa kinerja kamera mirrorless masih perlu mendapatkan peningkatan. Salah satu yang perlu segera diperbaiki adalah durasi yang dibutuhkan kamera dari mulai dinyalakan hingga siap memotret. Para produsen mirrorless juga perlu meningkatkan kecepatan autofocus memotret di kondisi cahaya redup dan objek bergerak. Selain itu, kualitas jendela bidik juga masih perlu ditingkatkan kualitas detail dan refresh rate-nya, sehingga bisa melihat di jendela bidik sama seperti apa yang kita lihat langsung.

Regular_Image_-_Entjhe_1

“Saya harap koleksi lensa juga semakin dilengkapi,” ujar Enche.

Berbeda dengan Enche yang langsung tertarik pada kamera mirrorless sejak pertama kali muncul, Anggara Maulandi, sutradara Television Commercial (TVC) dan video klip, justru baru tertarik menjajal kamera mirrorlesssetahun belakangan.

Regular_Image_-_Angga_1

Angga Maulandi (kanan)

 

“Ternyata kamera mirrorless itu lebih handy, simple, easy to use, tetapi kualitas gambar tetap terjaga,” ujar Angga yang sempat menjajal beberapa kamera mirrorless dari merek Sony, Panasonic, dan Fujifilm.

Dengan kelebihan itu, Angga sangat memanfaatkan kamera mirrorless untuk produksi film atau video yang membutuhkan mobilitas tinggi. Misalnya, video traveling atau produksi yang membutuhkan banyak perubahan lokasi. Hingga saat ini, Angga sudah memproduksi berbagai TVC dan video musik dengan kamera mirrorless.

Keampuhan kamera mirrorless sudah Angga buktikan dalam berbagai video yang sudah disutradarainya. Yang terbaru adalah video musik Raisa dengan judul “Jatuh Hati”. Latar syuting Taman Nasional Baluran Situbondo, Jawa Timur, yang eksotis dan akting Raisa bersama Oka Antara berhasil dilukis apik dengan kamera mirrorless Sony Alpha a7.

Regular_Image_-_Angga_2

Urusan teknologi, Angga sangat merasa terbantu dengan kehadiran sensor low light pada Sony Alpha a7 yang bisa mengambil gambar sangat baik meski dalam kondisi minim cahaya.

“Kamera mirrorless sekarang banyak yang keluar dengan fitur lowlight dan slowmotion yang bisa merekam gambar sampai 100 fps, bahkan lebih. Sementara, kamera DSLR saat ini hanya mampu merekam sampai speed50 fps,” jelas Angga yang sama sekali belum menemukan kendala dalam produksi video dengan mirrorless.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin jadi dan pesat, Angga yakin penggunaan kamera mirrorless ke depannya akan semakin mudah membuat video dengan gambar baik.

“Kalau setiap tahun berkembang (lebih ringkas), nantinya semua orang bisa jadi videomaker,” prediksi Angga akan dampak tren mirrorless ke depannya.

0 comments