NOW READING

Mengupas Lima Aspek Penting Fotografi Jalanan

 4727
+
 4727

Mengupas Lima Aspek Penting Fotografi Jalanan

by The Daily Oktagon

Sejak hadirnya kamera yang dapat dibawa-bawa pada 1920-an, fotografer mendapat kebebasan memotret apa pun secara spontan. Karya foto mulai menampilkan momen-momen yang tidak direkayasa atau direncanakan sebelumnya. Sejak saat itu, street photography atau fotografi jalanan mulai mendapatkan tempat di hati pencinta fotografi.

Sebenarnya, apa itu fotografi jalanan? Secara singkat, ini adalah kegiatan pemotretan yang fokus pada kehidupan manusia di jalanan atau ruang publik. Hasilnya adalah cerminan dari keseharian masyarakat tanpa adanya rekayasa, baik itu pengaturan subjek maupun olah digital yang seminimal mungkin. Meski menyinggung kata ‘jalanan’, foto tidak mesti dipotret di jalanan. Bisa di pasar, mal, terminal, stasiun kereta api, atau ruang publik lainnya.

Di Indonesia, fotografi jalanan termasuk salah satu genre yang diminati. Komunitas-komunitas pencinta fotografi jalanan dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Meski umumnya masih berskala kecil, anggotanya cukup solid. Melihat animo tersebut, Oktagon, sebagai penyedia produk fotografi terdepan di Indonesia, mengadakan workshop yang secara khusus membahas genre ini.

Regular_Image_Oktagon_1

 

Diadakan di Oktagon, Jalan Gunung Sahari Raya No. 50A, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 September 2015, acara bertajuk “Street Photography Workshop” ini menghadirkan Riki Dior Rondonuwu, pendiri Indonesia on the Streets (IOS), sebagai pembicara. IOS adalah grup Facebook dengan belasan ribu anggota yang terbuka untuk siapa dan punya ketertarikan pada fotografi jalanan.

Workshop kali ini tidak banyak membahas teknik fotografi, namun lebih mendalami apa saja yang perlu diperhatikan oleh seorang fotografer sebelum ia membawa kameranya turun ke jalan. Artikel ini mengajak Anda mengupas lima aspek penting fotografi jalanan yang disampaikan Riki.

Sebelum membidik obyek menarik, pelajari dulu dengan membaca artikel menarik ini, 7 Peralatan Andalan Street Photographer

1. Pahami Ruang Publik
Seperti telah disebutkan di atas, fotografi jalanan mengambil tempat di ruang publik. Karena itu, juru foto jalanan, atau street photographer, harus memahami batasan-batasan dari ruang publik itu sendiri. Riki menyebutkan, ruang publik adalah tempat di mana warga dan masyarakat berkomunikasi, menyampaikan pendapat, argumen, serta aspirasi.

Foto_narasumber_7

“Sifatnya harus terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi dari pihak pemerintah atau badan otonom lainnya, termasuk pihak swasta,” ujar Riki.

Jadi, bisa disimpulkan ruang publik berada di tengah-tengah masyarakat. Ruang publik adalah tempat terjadinya komunikasi dan interaksi antar warga.

2. Tanamkan Jiwa Flâneur
Robert Capa, fotografer kawakan asal Hongaria pernah mengatakan, “Jika foto Anda tidak bagus, berarti Anda kurang dekat.” Ini sangat berlaku pada fotografi jalanan. Perlu diingat, dekat di sini bukan berarti jarak antara lensa dengan subyek, tetapi kedekatan seorang fotografer dengan lingkungan di sekitarnya. Nah, agar bisa dekat dengan subyeknya, seorang juru foto jalanan harus, atau sebaiknya, mempunyai jiwa flâneur.

Apa itu flâneurFlâneur atau pelancong adalah orang yang berjalan untuk menikmati perjalanan dan berbaur dengan emosi di mana ia berpijak. “Jadi, Anda jangan langsung berpikir untuk memotret, jalan dulu. Cintai dulu apa yang Anda lakukan dan berbaurlah dengan mereka,” kata Riki.

Foto_narasumber_11

Nantinya, Riki melanjutkan, ketika menemukan subyek yang menarik untuk dipotret, fotografer bisa ‘hit and run’,atau memotret lalu pergi. Itu adalah salah satu metode yang dapat digunakan. Namun, sangat disarankan agar fotografer bisa ikut ngobrol atau berinteraksi dengan warga yang ia temui, sehingga terjalin kedekatan dengan subyek atau lingkungan di mana fotografer berada.

3. Bukan Sesuatu yang Indah
Jalanan, salah satu ruang publik tempat fotografer jalanan berburu subyek adalah jalur yang dilewati oleh seseorang untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada dinamika dan ketegangan yang dapat dirasakan di sana.

 

“Kita bisa mendengarkan percakapan yang seru, marah, atau kecewa. Perpaduan antara ketegangan dan dinamika ini yang membuat jalanan menjadi istimewa,” ucap Riki.

Foto_narasumber_4

Menurut dia, ini membuat fotografi jalanan punya peran sebagai studi sosial. Karena genre ini bukan memotret sesuatu yang indah, tetapi mengabadikan keseharian masyarakat. Apa yang ada di jalan, apa yang terjadi di jalan, dan cerita apa yang ada di jalan.

4. Estetika dari Sesuatu yang Biasa
Jalanan banyak menyajikan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dalam bentuk estetika. Ini disebut juga sebagai estetika banal, sebuah konsep yang dirumuskan oleh Erik Prasetya, salah satu fotografer paling berpengaruh di Asia versi Invisible Photographer Asia. Banal sendiri memiliki arti tidak elok atau biasa.

Foto_narasumber_10

 

Dijelaskan Riki, bahan-bahan mentah tersebut antara lain emosi, keceriaan, kesedihan, tragedi, jejak manusia, bisa berupa tulisan di dinding, sampah, atau tanda-tanda di jalan, kejanggalan atau keganjilan, dan sebagainya.

“Bahan-bahan mentah inilah yang diolah menjadi karya fotografi jalanan, dengan manusia sebagai minat utamanya,” kata Riki.

Ia menambahkan, karena manusia mempunyai kemauan, tujuan, dan gerakannya sendiri, fotografer harus memposisikan manusia bukan sebagai obyek, tetapi sebagai subyek.

6. Jangan Tercampur dengan Genre Fotografi Lain
Fotografi jalanan sering overlapping dengan jenis fotografi lainnya, seperti portrait, jurnalistik, dokumentasi, dan travel. Sebenarnya, masing-masing punya pola sendiri dan berbeda dari sisi pendekatannya. Pelajari pola berikut.

Portrait
Portrait berusaha mengeluarkan karakter atau sifat subyek foto. Biasanya subyek bisa diatur posenya sedemikan rupa oleh fotografer, sehingga bisa menampilkan atau menghasilkan gambar yang diinginkan.

Jurnalistik
Melalui foto, genre ini menyampaikan peristiwa yang memiliki kaidah berita atau peristiwa terbaru. Subyek dokumentasi biasanya sudah ditentukan. Fotografer sudah punya daftar apa saja yang akan difoto.

Dokumentasi
Tujuannya adalah mendokumentasikan sesuatu, contohnya tambang minyak di lepas pantai. Syarat utamanya adalah kelengkapan informasi, ini juga sekaligus sebagai batasannya. Karena mementingkan suatu kelengkapan dokumentasi, fotografer bisa mengatur atau mengarahkan subyek foto.

Travel
Genre ini lebih banyak menampilkan identitas suatu daerah, seperti bangunan, budaya, atau kuliner, dibandingkan menampilkan emosi dan estetika jalanannya.

Poin-poin di atas sebenarnya hanya panduan. Sebagai fotografer, Anda tidak perlu takut bereksperimen. Sering-sering juga berbagi karya di komunitas online agar mendapat banyak masukan dari sesama pecinta genre ini. Selamat mencoba!

Jangan lewatkan juga artikel menarik berikut, Empat Lensa Baru Sigma untuk Segala Kebutuhan

Workshop ini merupakan bagian dari seri yang menjadi agenda reguler Oktagon. Untuk informasi terkini tentang jadwal workshop, kunjungi Oktagon.

0 comments