NOW READING

Fauzan, Pemuda Indonesia Pencipta Prototipe Bladeless Drone

 1922
+
 1922

Fauzan, Pemuda Indonesia Pencipta Prototipe Bladeless Drone

by The Daily Oktagon
  • Berawal dari pengalaman pribadi ketika drone miliknya rusak, pemuda Fauzan terinspirasi membuat bladeless drone.
  • Pengetahuan teknik yang Fauzan dapat di bangku SMK, ditambah rasa ingin tahu yang besar terhadap computer science dan teknologi drone; ia merancang drone tersebut.
  • Fauzan pernah mengikutsertakan drone ini di kompetisi Google Science Fair 2016 dan Habibie Festival 2016.

Popularitas drone di Indonesia kini kian menanjak. Makin ke sini, penggunaan drone bisa diterapkan di berbagai bidang; mulai dari militer, jurnalistik, hingga komersial.

Selain itu juga, kini makin banyak merek dan tipe drone yang beredar di pasaran, seperti misalnya Ehang Ghostdrone 2.0 Standard, Xiro Xplorer V Black Drone, atau Walkera Rodeo 150 Mini FPV yang mungil tapi powerful; bahkan sampai ada drone yang harganya ratusan ribu rupiah saja.

Maka itu, rasanya tak berlebihan kalau bisa kita simpulkan: drone bukan lagi barang mewah yang hanya bisa dimiliki segelintir orang.

Tapi, dari berbagai jenis drone di pasaran tadi, dengan beragam tingkatan spesifikasi dan fungsi, ada satu kesamaannya, yaitu semuanya memiliki baling-baling.

Nah, apa jadinya kalau drone tidak punya baling-baling? Masih bisakah drone tersebut terbang? Menjawab pertanyaan ini, seorang pemuda di Ibukota mengembangkan bladeless drone alias drone tanpa baling-baling. Namanya, Muhammad Rizqy Fauzan.

Menyoroti hal ini, The Daily Oktagon secara khusus berbincang dengan Fauzan, sapaan akrab pemuda berusia 18 tahun lulusan SMK Negeri 26 Jakarta, yang juga baru mendapatkan beasiswa dari Universitas Borobudur, Jakarta Timur. Simak obrolannya berikut ini:

drone rizqy fauzan

Apa yang memotivasi Fauzan untuk membuat drone tanpa baling-baling ini?

Dulu saya pernah punya drone kecil, tapi ternyata drone itu mudah rusak, terutama di bagian baling-balingnya. Selain itu, menurut saya, baling-baling di drone ternyata memiliki potensi bahaya juga, karena putarannya yang sangat cepat.

Dari sini saya jadi terinspirasi untuk membuat drone tanpa baling-baling.

Apakah memang Fauzan punya latar belakang pengetahuan teknik atau sains yang kuat, sampai berani mewujudkan ide membuat drone ini?

Hmmm, kalau ditanya punya latar belakang pengetahuan teknik atau tidak, bisa dibilang mungkin, karena saya mendapatkannya di bangku sekolah. Saya lulus dari STM Pembangunan Jakarta (SMK Negeri 26 Jakarta), jurusan listrik. Itulah latar belakangan pengetahuan teknik yang saya punya.

Apakah pengetahuan teknik itu cukup untuk membuat drone?

Enggak juga, karena selain itu juga saya memang punya rasa ingin tahu tinggi terhadap computer science, terutama waktu itu, Arduino (teknologi pengendali single-board mikro yang bersifat open-source; dirancang untuk mempermudah kendali elektronik di berbagai bidang.)

Jadi saya pun memutuskan untuk mempelajari Arduino secara autodidaktik. Lalu, saya juga penasaran dengan teknologi di balik perangkat drone yang menurut saya sangat keren.

Dari situ, saya mulai bereksperimen kecil-kecilan secara bertahap, sampai jadi prototipe drone ini.

drone rizqy fauzan

Boleh tolong dijelaskan, bagaimana cara kerja bladeless drone buatan Fauzan ini?

Sebetulnya saya tidak bisa jelaskan secara detail cara dan teknis kerjanya, karena drone ini sedang dalam proses pendaftaran paten.

Tapi secara umum, bladeless drone ini memanfaatkan teknik air pressure (tekanan udara) untuk memancing udara di atas drone supaya mengalir ke bawah melalui frame (rangka) yang dirancang secara khusus. Dengan teknik tersebut, drone ini bisa melayang di udara.

Bagaimana tahap pengembangannya dari sejak awal dibuat hingga kini? Apa tantangan terberat yang Fauzan hadapi?

Sampai sekarang, drone ini sudah memasuki tahap revisi desain dan cara kerja v4.0.

Buat saya, tantangan terbesar dalam pembuatan drone ini adalah dana dan waktu. Karena drone ini model baru, maka dalam proses risetnya saya membutuhkan dana besar.

Kendala lain adalah banyak komponen yang mesti saya impor dari luar negeri. Proses impor komponen atau parts ini cukup panjang, hingga memakan waktu cukup lama.

Dalam prosesnya, apakah ada bantuan dari pemerintah atau pihak lain?

Ya, saya mendapatkan banyak bantuan dari komunitas Makedonia (prototyping lab dan innovation hub di Jakarta).

Selain itu, beberapa bulan lalu juga, saya sempat mengajukan project ini ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), walaupun sampai sekarang belum ada follow-up lagi.

drone rizqy fauzan

Apakah drone ini sudah pernah diikutsertakan dalam pameran atau kompetisi?

Saya pernah mengikuti kompetisi Google Science Fair 2016, tapi ternyata memang belum beruntung. Tapi selain itu, drone ini juga pernah dipamerkan di Habibie Festival 2016 pada Agustus lalu.

Kapan Fauzan menargetkan drone ini sepenuhnya rampung?

Secepatnya. Tapi saya belum bisa memastikan kapan tepatnya. Saya mencoba bersabar dan tidak mau terburu-buru dalam menggarap project ini, agar hasilnya maksimal.

Apa yang Fauzan harapkan setelah bladeless drone ini rampung? Bidang apa atau siapa yang Fauzan targetkan menggunakan drone ini?

Harapan saya, cara kerja drone ini bisa diaplikasikan sebagai alat terbang yang lebih aman, karena baling-baling sudah ditiadakan. Target saya, penggunanya adalah para profesional.

drone rizqy fauzan

Apakah Fauzan memiliki mentor atau pembimbing khusus yang membantu proses pembuatan atau penyelesaian drone ini?

Pembimbing saya selama ini adalah orang tua. Mereka memberikan support sejak dari project ini dimulai. Selain itu, dukungan dari komunitas Makedonia juga sangat berarti buat saya.

Siapa sosok yang menginspirasi Fauzan untuk bisa berkarya seperti ini?

Bapak BJ Habibie.

Apa cita-cita Fauzan kelak?

Saya ingin menjadi ilmuwan yang berguna untuk sesama manusia.

Bicara soal tren internet saat ini, apakah Fauzan termasuk pemuda yang aktif di media sosial?

Saya itu senang dengerin musik, dan suka menonton YouTube untuk sekadar menghilangkan rasa bosan. Tapi, saya juga sebetulnya jarang sekali aktif di media sosial, dan lebih tertarik dengan messaging appseperti Line, BBM, atau WhatsApp.


Cerita Fauzan di atas, sekali lagi menjadi bukti kalau teknologi drone bukan lagi barang asing di kehidupan masyarakat kini. Bukan hanya perangkatnya, tapi ‘dapur’ teknis perangkat itupun mulai menarik minat para pemuda, seperti Fauzan.

Fauzan juga membuat drone berdasarkan persoalan yang ia hadapi. Ia mencari solusi lewat ilmu pengetahuan, yang mungkin kelak akan bermanfaat buat lebih banyak orang yang mengharapkan solusi serupa.

Semoga kelak, kita bisa melihat drone tanpa baling-baling buatan Fauzan beredar di pasaran; tak hanya di Indonesia, tapi juga mancanegara.

0 comments