NOW READING

Enche Tjin dan Fotografi: Berawal Dari Benci Jadi Tekun Menggeluti

 4557
+
 4557

Enche Tjin dan Fotografi: Berawal Dari Benci Jadi Tekun Menggeluti

by The Daily Oktagon

Bagi Enche Tjin, fotografi awalnya tidak menyenangkan. Alasannya sederhana: biaya cetak dan harga rol film yang relatif mahal. Kini, setelah era fotografi digital tiba, Enche punya alasan untuk menekuni profesi yang tidak ia minati dulu.

Enche pertama kali belajar fotografi pada tahun 1998 dengan kamera manual. Sayangnya, setahun berkutat dengan kamera tidak pernah membuatnya benar-benar mencintai bidang ini. Sampai pada tahun 2007, tepatnya saat Enche pindah kuliah ke Bucknell University, dirinya “terpaksa” menjadi fotografer koran mahasiswa kampus tersebut. Sebenarnya, ia ingin terlibat sebagai desainer tata letak. Namun satu-satunya posisi yang terbuka adalah fotografer.

Enche Tjin - Sunrise

“Kamera yang saya gunakan pada saat itu adalah kamera DLSR Pentax K100. Satu semester kemudian saya membeli Canon 40D. Di musim gugur 2008, saya membeli Canon Rebel XSi atau 450D untuk cadangan,” tulis Enche dalam blog infofotografi.com yang ia asuh.

Menurut Enche, yang juga mengasuh rubrik konsultasi fotografi di salah satu portal berita online, sekarang orang-orang punya segudang alasan untuk melirik dunia fotografi. Karena, dengan perkembangan teknologi digital kamera yang pesat, pemula tidak perlu direpotkan dengan banyak masalah teknis dan bisa lebih fokus dalam komposisi serta waktu saat memotret. Selain itu, karena perkembangan teknologi produksi massal yang canggih dan efisien, harga kamera digital semakin lama semakin terjangkau.

“10 tahun yang lalu, kamera digital SLR tidak ada lebih murah dari US$1.000,” kenang Enche.

Kini, dari pribadi yang awalnya tidak menyenangi fotografi, telah terbit berbagai buku panduan untuk mendalami fotografi, seperti Kamera DSLR itu Mudah!, Lighting itu Mudah!, Fotografi itu Mudah!, Panduan Memilih Kamera dan Lensa, Kamus fotografi, dan Smart Guide for Camera and Lenses.

Untuk mengetahui pengalaman Enche lebih lanjut dalam dunia fotografi, berikut adalah hasil wawancara The Daily Oktagon dengan fotografer yang sering menyelenggarakan kursus kilat serta tur fotografi ini.

Seperti apa perbedaan yang Anda rasakan antara menggunakan kamera manual dengan DSLR?
Sewaktu mengunakan kamera manual atau kamera film, semuanya sangat sederhana, karena hanya ada beberapa tombol dan roda kendali untuk pengaturan kamera—seperti bukaan lensa dan shutter speed. Lensa yang saya gunakan fokusnya manual, dan tentunya tidak ada layar LCD untuk meninjau gambar.

Di era kamera digital SLR, tombol-tombol menjadi sangat banyak, dan—saat menekan tombol menu—banyak sekali pengaturan yang harus diteliti sebelum memotret. Sebenarnya dua-duanya punya tantangan. Di era kamera digital SLR, lebih sulit untuk belajar fotografi. Akan tetapi, di zaman dulu, biaya cuci cetak mahal, sehingga peminat fotografi tidak terlalu banyak.

Anda pertama kali belajar fotografi di tahun 1998 kemudian di tahun 2007 kembali menjumpai fotografi. Apa saja yang Anda lakukan selama tahun 1998-2007?
Saya ke gunung untuk bertapa. Bercanda! Di tahun-tahun tersebut saya kuliah jurusan desain grafis, dan kemudian melanjutkan kuliah di Bucknell University jurusan management.

Saat di Bucknell Univeristy, saya berkesempatan menjadi fotografer di koran mahasiswa The Bucknellian. Sebenarnya saya ingin menjadi layout designer, tapi ternyata lowongan yang terbuka hanya sebagai fotografer. Singkat cerita, saya ambil juga kesempatan tersebut.

Di sana sangat menarik, karena budaya dan alamnya sangat berbeda dengan Indonesia. Sebagian besar yang saya lakukan adalah mendokumentasikan acara-acara seputar kampus saja.

Genre fotografi apa yang saat ini Anda tekuni?
Travel photography dan portrait adalah genre yang saya tekuni saat ini. Di dunia yang terus berubah, saya pikir kalau tidak mengabadikan foto saat ini maka di masa depan kemungkinan semua sudah berubah. Saya sendiri lebih suka memotret objek pemandangan dan portrait, karena dapat bercerita banyak tentang sebuah kehidupan yang unik di daerah tersebut.

Mengapa Anda kemudian memutuskan untuk mengajar fotografi?
Saat saya pulang dari Amerika Serikat, saya melihat animo masyarakat di tanah air—terutama di Jakarta—terhadap fotografi sangat tinggi, sehingga saya mencoba membuka kursus fotografi. Karena jumlah peserta kursus cukup banyak dan permintaan cukup rutin, maka saya melanjutkannya sampai saat ini.

Enche Tjin - Yunnan

Kapan Anda mulai menulis blog infofotografi.com? Mengapa Anda membuka blog tersebut?
Saya mulai menulis blog tahun 2009, tujuan utamanya untuk berbagi ilmu tentang fotografi, dan juga hitung-hitung sebagai catatan pribadi saya. Salah satu motivasi lain adalah situs yang bertopik fotografi masih sedikit yang berbahasa Indonesia. Jadi saya mencoba untuk menyediakan informasi agar lebih bisa dipahami masyarakat Indonesia

Prinsip utama saya adalah membantu memberikan kesempatan setiap orang yang ingin belajar fotografi tidak terkait usia, golongan, atau tempat tinggal.

Saat ini selain seputar fotografi, apa saja kegiatan yang Anda lakukan?
Kegiatan saya selain memotret saat ini masih berkutat seputar fotografi seperti menulis, mengajar, mengadakan tur fotografi. Di saat santai, saya suka membaca buku fotografi [tertawa].

Apa kamera yang jadi andalan Anda saat ini?
Saya punya beberapa kamera yang sering saya gunakan saat ini, yaitu Nikon D600, Sony A7, dan Sigma DP.

Apa yang perlu seorang pemula perhatikan ketika memutuskan untuk terjun ke dunia fotografi?
Menurut saya yang paling penting adalah kualitas sebuah foto. Maka itu seorang fotografer harus selalu meningkatkan diri dengan belajar. Selain itu, perlu juga mempelajari cara berhubungan dengan orang lain dengan baik, karena karya yang spesial biasanya terbuat karena kerjasama dengan orang banyak.

Terakhir, cobalah untuk bersikap otentik. Jangan mudah ikut-ikutan tren dan teruslah berusaha membuat karya foto yang unik.

Enche Tjin - Karang Taraje

Menurut Anda, bagaimana pentingnya seorang pelaku fotografi untuk mau berbagi ilmu kepada fotografer lainnya?
Berbagi ilmu itu penting. Pertama, dengan berbagi ilmu, secara tidak sadar kita akan lebih memahami dan mendalami fotografi. Alasan kedua adalah supaya dunia fotografi secara keseluruhan bisa lebih berkembang, dan kita semua bisa menikmati lebih banyak lagi foto-foto yang indah-indah.

0 comments